Soal Anjloknya Harga TBS di Bengkulu, Petani Sawit Menjerit, Pengusaha Masih Aman!
Ilustrasi - petani sawit. Dok.kabarsawit
Bengkulu, kabarsawit.com - Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Bengkulu mengalami penurunan drastis hingga mencapai Rp 1.500 per kilogram. Meski kondisi ini menjadi keprihatinan bagi banyak pihak, sejumlah pengusaha perkebunan kelapa sawit di daerah itu mengklaim tetap untung dengan harga segitu.
"Meski harga TBS kelapa sawit saat ini sangat rendah, tetapi kami masih bisa menghasilkan keuntungan yang layak. Hal ini karena kami telah melakukan diversifikasi bisnis dengan memperluas jaringan distribusi dan mengoptimalkan kegiatan produksi," kata Harahap, seorang pengusaha perkebunan kelapa sawit di Bengkulu kepada kabarsawit.com, kemarin.
Meski petani kelapa sawit merasa terdampak dengan anjloknya harga TBS, para pengusaha perkebunan kelapa sawit masih berhasil mengatasi situasi tersebut dengan strategi bisnis yang berbeda. Mereka telah berhasil memperoleh keuntungan dengan bekerja disektor lain. Diversifikasi ini membantu mereka untuk tetap beroperasi dan menghasilkan pendapatan yang stabil.
"Kami tidak hanya mengandalkan penjualan TBS kelapa sawit, tetapi juga melakukan kegiatan usaha dibilang lain. Diversifikasi ini telah membantu kami mengurangi dampak negatif dari penurunan harga TBS dan memberikan keuntungan tambahan," ujar Harahap.
Selain diversifikasi bisnis, pengusaha perkebunan kelapa sawit di Bengkulu juga mengimplementasikan upaya penghematan biaya produksi. Mereka mengadopsi teknologi baru dan inovasi dalam penggunaan sumber daya dan pengelolaan perkebunan.
Hal ini juga dinilai membantu mereka mengurangi biaya produksi dan meningkatkan efisiensi, sehingga meskipun harga TBS rendah, mereka masih dapat memperoleh keuntungan yang signifikan.
"Kami juga memanfaatkan teknologi dan inovasi baru, semua proses pemetikan hingga pemanenan dilakukan dengan mesin, jadi biayanya lebih hemat dibandingkan pakai tenaga banyak orang," ujarnya.
Berbeda dengan petani kelapa sawit di Bengkulu Utara, Budi Santoso mengaku, sangat sulit untuk menerapkan pertanian seperti yang dilakukan oleh pengusaha sawit. Sebab untuk menerapkan hal itu dibutuhkan biaya yang besar juga diawal.
"Sangat sulit bagi kami, para petani kelapa sawit, untuk mendapatkan keuntungan saat harga TBS sedang anjlok seperti sekarang. Biaya produksi tetap tinggi, sedangkan pendapatan kami menurun drastis. Kami berharap pemerintah dapat memberikan bantuan atau stimulus untuk membantu kami melewati masa sulit ini," pungkasnya.








