Agar Tak Terjadi Konflik, Petani Jangan Sembarangan Tanam Sawit
Petani di Mukomuko membabat habis tanaman sawit yang di tanam orang di lahannya.
Bengkulu, elaeis.co - Petani sawit di wilayah Mukomuko, Provinsi Bengkulu, diimbau agar menanam sawit hanya di lahan untuk menghindari konflik.
Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, Mukomuko telah menjadi pusat perkebunan kelapa sawit yang berkembang pesat di Provinsi Bengkulu.
Pertumbuhan industri sawit ini telah memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian daerah, namun juga menimbulkan beberapa masalah sosial yang perlu diatasi. Salah satunya konflik antara petani dengan pemilik lahan.
"Saya telah melihat beberapa kasus perselisihan yang timbul antara petani dan pemilik lahan. Menanam sawit di lahan milik orang lain adalah langkah yang berisiko tinggi, karena pemilik lahan dapat dengan mudah menebang pohon-pohon sawit kita tanpa pemberitahuan atau kompensasi yang adil," kata Poniman, warga Mukomuko kemarin.
Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan instansi terkait juga telah memberikan sosialisasi kepada petani sawit di Mukomuko mengenai hal itu. Informasi tentang prosedur dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan legalitas lahan sebagai pemilik tanah, termasuk pengurusan sertifikat lahan juga kerap disosialisasikan l.
Selain itu, dalam sebuah pertemuan dengan petani sawit, Dinas Pertanian Bengkulu juga sudah menyampaikan menanam kelapa sawit di lahan sendiri memberikan keuntungan jangka panjang.
"Dengan memiliki lahan sendiri, petani dapat merencanakan penanaman dan pengelolaan tanaman sawit secara lebih efektif. Mereka juga dapat menikmati hasil panen secara utuh dan melindungi tanaman mereka dari risiko pemotongan atau penebangan yang tidak adil," kata Kadis Pertanian Mukomuko, M Rizon.
Selain itu, M Rizon juga menyampaikan bahwa melalui penanaman sawit di lahan sendiri, petani akan lebih mudah mendapatkan akses ke program bantuan dan pelatihan yang disediakan oleh pemerintah.
Program-program tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen, serta memberikan pendampingan dalam pengelolaan kebun sawit.
"Dengan adanya imbauan dan sosialisasi yang intensif, diharapkan petani sawit di Mukomuko akan semakin menyadari pentingnya menanam kelapa sawit di lahan milik mereka sendiri. Hal ini tidak hanya akan mengurangi risiko konflik dengan pemilik lahan, tetapi juga akan memberikan keuntungan jangka panjang bagi mereka dalam pengelolaan kebun sawit dan akses ke program-program pemerintah yang mendukung pengembangan sektor pertanian," tutupnya.








