https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Tingkatkan Produksi Lewat Kotoran Sapi

Tingkatkan Produksi Lewat Kotoran Sapi

Pupuk kotoran sapi di tanaman sawit.

Bengkulu, kabarsawit.com - Petani sawit di Bengkulu telah mengambil langkah progresif dengan beralih ke penggunaan pupuk organik yang dibuat dari kotoran sapi. Pupuk organik ini dipercaya dapat meningkatkan produktivitas tanaman sawit sambil menjaga keberlanjutan lingkungan. Langkah ini menunjukkan komitmen petani dalam mencari solusi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Petani kelapa sawit di Bengkulu Tengah, Wawan Suwandi mengaku, telah berkolaborasi dengan peternak lokal untuk memanfaatkan kotoran sapi sebagai bahan baku pupuk organik. Dimana dirinya mengumpulkan kotoran sapi secara teratur dan mengolahnya menjadi pupuk berkualitas tinggi.

"Beralih ke pupuk organik merupakan langkah yang tepat bagi kami. Selain mengurangi penggunaan pupuk kimia yang berbahaya bagi tanah dan lingkungan, pupuk organik juga memberikan nutrisi yang lebih seimbang dan berkelanjutan untuk tanaman sawit kami," kata Wawan, Rabu (12/7).

Menurut Wawan, pupuk organik yang dihasilkan dari kotoran sapi ini telah membuktikan manfaatnya bagi pertumbuhan tanaman sawit. Bahkan tanaman sawit yang diberi pupuk organik mengalami peningkatan hasil panen yang signifikan.

"Pemakaian pupuk organik dari kotoran sapi mampu meningkatkan hasil panen yang signifikan. Awalnya rata-rata per batang sawit hanya mampu 20 kilogram, saat ini sudah diatas 40 kilogram per batang," ujar Wawan.

Wawan juga mengakui manfaat jangka panjang dari penggunaan pupuk organik ini. Dirinya mencatat bahwa tanah yang ditaburi pupuk ini menjadi lebih subur dan memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap hama dan penyakit. Dengan demikian, petani dapat mengurangi penggunaan pestisida dan fungisida yang berpotensi merusak ekosistem lokal.

"Semenjak pakai pupuk ini tanahnya menjadi lebih subur, bahkan tidak ada hama dan penyakit yang menyerang tanaman sawit juga," tuturnya.

Langkah inovatif ini juga telah menarik perhatian para ahli pertanian setempat. Dr. Zainal Muktamar, seorang ahli pertanian di Kota Bengkulu, menyambut positif keputusan petani sawit di Bengkulu untuk beralih ke pupuk organik.

"Ini adalah contoh bagaimana pertanian berkelanjutan dan lingkungan dapat saling berkaitan," kata Dr Zainal.

Dengan beralih ke pupuk organik yang dihasilkan dari kotoran sapi, petani sawit di Bengkulu menunjukkan dedikasi mereka untuk berkontribusi pada pertanian yang lebih berkelanjutan.

Langkah ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman sawit, tetapi juga mendukung pemeliharaan lingkungan yang lebih baik.