Tak Masalah Resesi, Kalau Harga Sawit Moncer!
Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Win Rizal.
Bengkulu, kabarsawit.com - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu Win Rizal mengatakan, ancaman resesi tahun ini akan mempengaruhi daya beli masyarakat.
"Ancaman resesi yang perlu dijaga daya beli masyarakat," kata Rizal kepada kabarsawit.com, kemarin.
Kendati begitu, menurutnya resesi tidak masalah jika daya beli masyarakat khususnya kelompok petani dan pekebun sawit terjaga.
"Karena daerah kita didominasi oleh petani dan pekebun sawit, maka harus dijaga indeks harga pertaniannya. Kalau petani sawit, ya harus dijaga harga penjualan tandan buah segar (TBS)-nya," ujarnya.
Selama pemerintah daerah mampu menjaga stabilitas harga TBS di angka Rp2.300 per kilogram, maka daya beli masyarakat di Bengkulu tertopang dengan pendapatan hasil panennya.
"Penduduk Bengkulu banyak yang berprofesi sebagai petani sawit. Ketika harga TBS rendah, masyarakat menunda atau menekan biaya belanjanya. Ini terjadi saat harga TBS di bulan Agustus lalu Rp1,300/kg," kata Rizal.
Dengan harga TBS yang saat ini mencapai Rp2.090/kg, menurutnya daya beli petani sawit masih terbilang normal.
Hanya saja untuk menghadapi ancaman resesi, angka proporsional yang harus didapat petani sawit mestinya di atas Rp2.500/kg
Untuk itu Rizal juga berharap, pemerintah bisa memberikan jaminan stabilitas harga TBS kelapa sawit. Sebab kontribusi kelapa sawit di Bengkulu cukup besar.
"Saya pikir solusi untuk mengatasi permasalahan ini hanya satu, yakni menjaga harga TBS sawit tingkat petani," pungkasnya.








