Indonesia Ikut Serta Menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca, Berikut 3 Jalur Kontribusi Industri Sawit 2023
Ilustrasi Efek Rumah Kaca, foto : Dinas Lingkungan Hidup
Jakarta, kabarsawit.com - Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebagai bagian untuk melindungi Bumi. Komitmen tersebut telah diratifikasi pada Perjanjian Paris dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016. Selanjutnya, komitmen itu diteruskan ke Nationallly Determined Contribution (NDC) yang merupakan bagian dari strategi jangka panjang pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim (Long Term Strategy Low Carbon and Climate Resilience 2050), yang bertujuan untuk menurunkan emisi sebesar 29% dengan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan internasional.
Secara alami, fotosintesis tanaman kelapa sawit dapat mengubah energi matahari dan karbon dioksida menjadi minyak sawit, biomassa, dan sebagian disimpan dalam bentuk karbon stok organik lahan. Dengan demikian, proses produksi industri sawit diambil dari energi surya dengan menyerap karbon dioksida dari atmosfir Bumi.
Berasal dari kebun sawit, minyak sawit dan biomassanya diproses di industri hilir sawit untuk menghasilkan berbagai produk oleokimia, oleofood, dan bioenergi atau biofuel rendah karbon. Proses produksi ini membentuk tiga jalur kontribusi industri sawit untuk pencapaian NDC dan Net Zero Emissions (NZE).
Dikutip dari jurnal Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute yang ditulis oleh Dr. Ir. Tungkot Sipayung terdapat tiga jalur kontribusi industry sawit 2023. Pada jalur pertama, jalur perkebunan sawit menjadi Net Carbon Sink. Jalur perkebunan sawit ini menyerap 161 ton CO2 per hektar melalui fotosintesis dan menggunakan 96.5 ton CO2 per hektar melalui respirasi, menciptakan Net Carbon Sink sebesar 64.5 ton CO2 per hektar.
Memang, NCS kebun sawit harus dipantau melalui emisi langsung dari proses produksi pupuk, energi, limbah, dll serta emisi land use change (asal usul lahan) yang masih menjadi perdebatan antara metode dan asumsi. Tetapi kemampuan kebun sawit untuk menyerap karbon dioksida dari atmosfir sangatlah penting. Dibandingkan dengan emisi minyak nabati lainnya, emisi per ton minyak sawit jauh lebih rendah.
Sebagian besar kebun sawit di Indonesia berasal dari tutupan lahan yang memiliki stok karbon yang lebih rendah dibandingkan stok karbon kebun kelapa sawit. Ini menunjukkan bahwa emisi land use change (LUC) dari delapan puluh persen kebun sawit di Indonesia bukanlah emiten karbon (LUC dari stok karbon tinggi ke stok karbon lebih rendah) tetapi pengabsorpsi karbon (LUC dari stok karbon lebih rendah ke stok).
Lalu pada jalur kedua, untuk mengurangi emisi sektor energi fosil, digunakan bioenergi, biofuel, dan biomaterial sawit yang rendah karbon sebagai pengganti atau subsitusi energi fosil. Penggantian cangkang sawit dengan subsitusi batubara dan produk petrokimia dengan oleokimia sawit sama-sama dapat mengurangi emisi energi fosil. Penggantian solar fosil dengan biodiesel, subsitusi bensin fosil dengan bensin sawit, subsitusi avtur fosil dengan avtur sawit, dan beberapa contoh lainnya adalah contoh pengurangan emisi yang signifikan.
Selain di sektor energi, produk turunan sawit (oleochemical complex) dapat digunakan sebagai pengganti produk petrokimia seperti petroplastik dan produk yang dibuat dari turunan minyak bumi. Dengan demikian, konsumsi energi fosil dan produk turunannya dapat dimaksimalkan untuk mengurangiemisi.
Jalur ketiga, mengurangi emisi di rantai pasokan industri sawit melalui peningkatan manajemen dan teknologi. Pada tahap proses produksi kebun sawit hingga CPO-Mill, POME menyumbang emisi terbesar sebesar 62%, disusul oleh pupuk dengan 31% dan energi fosil dengan 5%. Pada industri hilir, energi untuk esterifikasi dan refining, serta transportasi, menyumbang kontribusi terbesar.
Dengan ketiga jalur tersebut, industri sawit bukan hanya membantu mencapai NDC tetapi juga meningkatkan kontribusinya menuju NZE dan bahkan Net Sink. Sektor lain, seperti kehutanan, mungkin hanya berkontribusi pada jalur karbon sink.








