Pembangunan Terminal Curah Cair, Pelindo Dukung Ekspor CPO Bengkulu
Pelabuhan Pulau Baai, foto: Pemprov Bengkulu
Bengkulu, kabarsawit.com - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 2 Bengkulu membangun area terminal curah cair. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kinerja pelayanan pelabuhan dan membantu perkembangan ekonomi Provinsi Bengkulu.
Menurut Hadi Nurmayadi, General Manager PT Pelindo Regional 2 Bengkulu, infrastruktur menjadi penghambat ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu. Ini disebabkan karena dari pelabuhan tidak memiliki terminal curah cair.
"Tapi belum dilakukan, pembangunannya masih dalam proses, masih banyak yang belum diselesaikan, mulai dari proses perizinan dan lainnya," kata Hadi, Minggu (30/7).
Dibangun di atas tanah seluas 17 hektar milik Pelindo II, terminal curah cair direncanakan akan menampung 19 tangki bahan curah cair seperti CPO, masing-masing dengan kapasitas 3.000 ton. Diperkirakan terminal ini dapat melayani 2 juta ton bahan curah cair setiap tahun.
Pelabuhan Pulau Baai dapat menangani bongkar muat CPO dan bahan bakar minyak (BBM) jika sudah memiliki terminal curah cair. Untuk tahap pertama, pembangunan dermaga akan dilakukan. Bahan kontruksi yang akan digunakan untuk pembangunan terminal ini nantinya akan didatangkan dari dalam negeri. Hadi berhap pembangunan terminal selesai pada akhir 2024.
Dia juga menyatakan bahwa pelabuhan Pulau Baai sebelumnya telah melayani kargo CPO curah cair, tetapi tidak diekspor secara langsung ke luar negeri, melainkan dikirim ke Pelabuhan Teluk Bayur di Padang, Sumatera.
"Masih dilakukan secara konvensional dengan metode truck lossing. Kargo CPO diangkut menggunakan truk, lalu dimuat ke kapal secara konvensional di dermaga,” ujarnya.
Dia juga menambahkan, "Dengan adanya terminal curah cair nantinya, maka ekspor CPO dapat dilakukan secara langsung dari Bengkulu dan dapat berkontribusi pada PAD Bengkulu."
Dr. Bukhari, Kepala Karantina Pertanian Bengkulu, berharap terminal curah cair segera dibuka untuk meningkatkan nilai ekspor produk pertanian wilayah itu. Dia mengatakan bahwa karena fasilitas yang kurang, hingga saat ini belum ada eksportir CPO dari Bengkulu, meskipun produksi CPO sangat besar.
Menurutnya, pebisnis CPO di Bengkulu tidak mau menjadi eksportir karena faktor infrastruktur dan tidak mau repot-repot mengurus izin dan dokumen lainnya.
“PKS lebih suka menjual CPO kepada eksportir di luar wilayah seperti Pelabuhan Teluk Bayur karena prosesnya lebih sederhana dan mereka tidak ingin terlalu sibuk dengan proses ekspor” tutupnya.








