Ternyata Limbah Sawit Digunakan Sebagai Diagnosa Penyumbatan Darah Bagi Paru-paru
Peneliti BRIN, Indra Saptiama, mengembangkan limbah kelapa sawit untuk diagnosa emboli paru. Foto: Humas BRIN.
Jakarta, kabarsawit.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), sedang mengembangkan penggunaan limbah kelapa sawit untuk mendiagnosa emboli paru. Emboli paru adalah suatu kondisi di mana darah menyumbat paru-paru dan dapat menyebabkan kematian jaringan.
“Bagi pasien yang dicurigai mengalami emboli paru, diagnosis yang tepat sangat penting untuk menentukan stratifikasi risiko dan pengobatan yang tepat," ujar Indra Saptiama, peneliti madya di Pusat Penelitian Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri (BRIN), dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (12/1).
Sebagai bagian dari monitoring dan evaluasi grant riset sawit yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Indra juga memaparkan tentang pencitraan paru-paru, salah satu teknik pencitraan ventilasi dengan menggunakan karbon nano aerosol berlabel 99mTc yang dihasilkan dari generator komersial. Ia mengatakan bahwa penggunaan limbah kelapa sawit sebagai bahan baku untuk produksi aerosol karbon substitusi memberikan manfaat komersial.
“Dimulai dengan produksi nanopartikel kelapa sawit, tahap penelitian yang meliputi pengembangan bubuk pembawa nanopartikel karbon, pelabelan Tc-99m pada nanopartikel karbon dan uji serapan seluler pada sel kanker dan normal paru-paru, menunjukkan bahwa sel kanker mengikat karbon lebih baik dibandingkan dengan sel normal. Karena kandungan lipid yang lebih tinggi pada sel kanker, pelabelan nanopartikel karbon 99mTc sangat baik, dengan tingkat pelabelan 96,69% dan kemurnian radiokimia lebih dari 99%," jelasnya.
Ia berencana untuk lebih mengoptimalkan proses untuk menghasilkan partikel karbon seukuran telapak tangan. Salah satunya adalah dengan mengoptimalkan parameter pengeringan semprot. Dia juga berencana untuk melakukan uji sitotoksisitas in vitro pada keamanan nanopartikel karbon untuk penelitian lebih lanjut pada hewan. Hal ini akan dilakukan untuk visualisasi organ paru-paru yang ideal dan untuk menentukan efek pada organ lain, termasuk studi biodistribusi dan pembersihan.
Zaid Burhan Ibrahim, Pelaksana Tugas Direktur Penyaluran Dana BPDPKS, berharap penelitian yang diusulkan akan mencapai hasil yang dijanjikan. “Dan pada saatnya nanti, akan memberikan manfaat langsung bagi perkembangan industri kelapa sawit Indonesia," harapnya.








