Dambakan Pabrik Minyak Makan Merah di Bengkulu
Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Ricky Gunarwan. Foto: Dirgantara
Bengkulu, kabarsawit.com - Pemerintah Provinsi Bengkulu bercita-cita petani di daerah itu punya pabrik minyak makan merah.
Pasalnya, pabrik minyak sawit mentah (CPO) sudah terlalu banyak di daerah itu. Dengan pabrik minyak makan merah diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sawit di daerah itu.
"Kalau pabrik CPO sudah banyak. Yang belum ada itu pabrik hilirisasi industri pengolahan," kata Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Ricky Gunarwan kepada kabarsawit.com, Sabtu kemarin.
Sayangnya, hingga kini belum ada dukungan untuk membikin pabrik hilirisasi tersebut. Untuk itu Ricky berharap pemerintah pusat maupun investor bisa membangun pabrik minyak makan merah di Bengkulu.
"Tak perlu besar-besar dibangun. Skala mini saja agar bisa menekan biaya produksi," kata dia.
Menurut Ricky membangun pabrik minyak makan merah banyak untungnya. Selain meningkatkan pendapatan petani, juga sehat bagi penggunanya.
"Minyak makan merah, pro vitamin A dan vitamin E-nya tinggi. Minyak goreng biasa memang warnanya bening. Itu disebabkan karena di bleaching atau dihilangkan pigmen warna merahnya. Padahal warna merah itu sumber vitamin A dan vitamin E," ujar Ricky.
Berdasarkan catatan Kemenangan Perindustrian, kata Ricky, selama ini Indonesia malah mengimpor bahan baku vitamin A dan vitamin E, padahal Indonesia sudah tersedia bahan baku dari sawit.
Untuk itu Ricky meminta agar izin pembangunan pabrik minyak makan merah hanya berlaku untuk koperasi petani sawit, bukan bagi perusahaan besar, agar nantinya tidak terjadi persaingan antara minyak makan merah dengan produk lainnya.
"Minyak makan merah ini jangan bersaing dengan yang besar, kalau yang kecil bersaing dengan yang besar pasti kalah. Jadi kita berharap pemerintah berpihak kepada petani sawit," tutur Ricky.
Supaya minyak makan merah diproduksi dengan murah dan bisa dibeli masyarakat, maka pembangunannya kata Ricky setiap 1.000 hektare, dibangun satu pabrik mini dengan hasil produksi minimal 10 ton per hari.
"Kalau pemerintah ingin petani sawit makmur dan masyarakat mudah mendapatkan minyak makan yang sehat dan murah, bikin saja pabrik minyak makan merah ini," kata dia.
"Ini merupakan konsep pabrik yang terintegrasi. Sebab pabriknya dan pasarnya satu kawasan, sehingga biaya produksinya bisa ditekan lebih murah," pungkasnya.








