https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Terungkap, Sektor Pariwisata Secara Tidak Langsung Turut Mendorong Penggunaan Minyak Sawit Berkelanjutan

Terungkap, Sektor Pariwisata Secara Tidak Langsung Turut Mendorong Penggunaan Minyak Sawit Berkelanjutan

Kegiatan Eco Tourism Week 2025 di Bali. Foto: Ist

Bali, kabarsawit.com - Sektor pariwisata secara tidak langsung turut mendorong penggunaan minyak sawit berkelanjutan. Fakta ini terungkap pada gelaran Eco Tourism Week 2025 yang diselenggarakan di Bali, Rabu (28/5).

Pada kegiatan ini dibahas bagaimana minyak sawit mentah atau Crude Paml Oil (CPO) dan turunannya dimanfaatkan untuk memajukan pariwisata berkelanjutan di seluruh Bali. Konsep ini terbangun berkat kemitraan strategis Eco Tourism dengan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). 

Pihak Eco Tourism sebagai organisasi independen mendorong praktik ramah lingkungan dan memverifikasi standar keberlanjutan, memberdayakan industri parawisata untuk memprioritaskan pengelolaan lingkungan, pelestarian budaya, dan kesejahteraan masyarakat.

Dr. M. Windrawan Inantha, Deputi Direktur Transformasi Pasar RSPO mengungkapkan, berdasarkan data, industri pariwisata Indonesia mengonsumsi sekitar 500.000 ton CPO setiap tahun melalui penggunaan minyak goreng, yakni setara dengan 5% dari total konsumsi minyak sawit nasional untuk pangan.

“Angka ini menegaskan pariwisata bukanlah pemain kecil,” ujar Windrawan dalam keterangannya kepada elaeis.co, Kamis (29/5).

Pada 2024, katanya, Indonesia menyambut sekitar 14 juta wisatawan mancanegara, sementara perjalanan wisatawan domestik mencapai ratusan juta perjalanan. Hotel, restoran, jasa katering, dan pedagang kuliner lokal bergantung pada minyak goreng berbasis sawit.

“Bayangkan jika setiap wisatawan menggunakan 0,1 kg minyak goreng per hari, dampaknya akan sangat besar jika semuanya beralih ke CSPO,” bebernya.

Dia yakin bahwa sektor pariwisata sebagai pelopor karena visibilitasnya yang tinggi dan daya tariknya bagi publik.

“Wisatawan masa kini semakin peduli pada keberlanjutan. Bagi pelaku usaha perhotelan dan kuliner, penggunaan CSPO bukan hanya langkah etis, tetapi juga strategi branding yang cerdas,” pungkasnya.

Langkah ini sejalan dengan peran ganda Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia yang juga berkomitmen pada konsumsi yang bertanggung jawab. Dengan mengadopsi CSPO, sektor pariwisata dapat mempercepat permintaan pasar untuk produk berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam praktik produksi yang etis.

Langkah semacam ini memiliki dasar bisnis yang kuat. “Banyak pelaku pariwisata sudah mengantongi sertifikasi keberlanjutan seperti GSTC, Green Key atau EarthCheck. Mengintegrasikan CSPO adalah langkah logis berikutnya,” ungkapnya.

Para pelaku industri parawisata seyogyanya menjalin kemitraan dan membangun rantai pasok yang mendukung minyak sawit berkelanjutan. Kolaborasi lintas sektor melibatkan industri pariwisata, pemasok pangan, pemerintah daerah, dan komunitas lokal menjadi kunci untuk perubahan sistemik.

Pariwisata dan minyak sawit adalah pilar utama ekonomi Indonesia. Jika dikelola secara bertanggung jawab, keduanya dapat saling memperkuat untuk masa depan yang berkelanjutan bagi bisnis, masyarakat, dan lingkungan.

Kemitraan strategis Eco Tourism Bali dengan RSPO menandai langkah penting menuju pariwisata berkelanjutan di Bali. Suzy Hutomo, Co-Founder Eco Tourism Bali, menegaskan, melalui kemitraan dengan RSPO, pihaknya berkomitmen untuk mengurangi deforestasi, melindungi satwa liar, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

"Kolaborasi ini diharapkan akan menghasilkan dampak yang signifikan, termasuk pelestarian ekosistem, pengurangan emisi karbon, dan pemberdayaan petani," ujarnya.

"Tamu dari Eropa, misalnya, akan menghargai kesempatan untuk dapat membuat pilihan yang sadar lingkungan selama perjalanan mereka. Bersama-sama, kami bertujuan untuk memajukan industri pariwisata yang lebih berkelanjutan yang memberikan manfaat jangka panjang bagi planet dan masyarakat lokal," tambahnya.