https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Tinggal di Kebun Sawit, Anak Disabilitas Ini Butuh Bantuan!

Tinggal di Kebun Sawit, Anak Disabilitas Ini Butuh Bantuan!

Sentra Dharma Guna Bengkulu melakukan kunjungan ke rumah Ari.

Bengkulu, kabarsawit.com - Kemunculan Ari di media mendapat respon positif dari Kementerian Sosial. Penyandang disabilitas ini sempat viral lantaran tinggal di kebun kelapa sawit. 

Keterbatasan ekonomi orang tua yang membikin Ari tidak mampu bertobat. Orang tuanya hanya memiliki satu hektare lahan kebun sawit. 

Ari yang tinggal di Desa Datar Lebar, Kecamatan Lais, Kabupaten Bengkulu Utara ini sempat dipublis oleh wartawan dan viral.

Pihak kementerian melalui Sentra Dharma Guna Bengkulu pun melakukan kunjungan langsung ke rumah keluarga petani gurem ini. Dua orang tim dari pusat, Ajeng dan Stephani pun langsung terbang Provinsi Bengkulu melihat kondisinya.  

Didampingi perwakilan Sentra Dharmaguna dan Dinas Sosial Bengkulu Utara, mereka pun mengunjungi keluarga Jasuli (ayah Ari), Minggu kemarin.

Melihat kondisi ekonomi keluarga Ari pun menjadi bahan pertimbangan kementrian untuk membantu meringankan beban keluarga dalam proses pengobatan Ari.

“Kami turun langsung mengecek rumah dan ke kebun Pak Jasuli, nantinya untuk bahan pertimbangan pihak Kementerian Sosial dalam proses pengobatan dan membantu keluarga Ari untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dengan bantuan berkelanjutan," kata Ajeng, kemarin.

Dari penjelasan keluarga, Ari mengidap penyakit itu sejak kecil. Remaja ini pernah mengalami panas tinggi dan kejang kala itu. Setahun kemudian, perkembangan tulang tangan dan kaki Ari terlihat tidak normal.  

"Dari hasil pemeriksaan dan diagnosa, Ari mengalami sakit poliomyelitis (penyakit virus polio). Dokter menganjurkan Ari dirujuk ke dokter syaraf," kata Ajeng.  

"Setelah itu Ari kami rujuk ke dokter spesialis syaraf di Rumah Sakit Ummi Bengkulu. Hasil pemeriksaan menunjukkan Ari menderita sakit Cerebral Palsy yaitu penyakit gangguan perkembangan otak yang disebabkan oleh kejang berulang," imbuhnya.

Ajeng mengatakan, ekonomi keluarga Ari memang tidak memadai. Kebun seluas satu hektare menjadi penopang ekonomi keluarganya. Dengan kondisi sawit yang jarang dipupuk, tentu hasilnya juga tidak maksimal.

"Harapan kita kedepannya akan ada bantuan dari pihak lain yang berkelanjutan," kata Ajeng.

Ajeng berharap dengan adanya kerja sama dari semua pihak, mudah-mudahan kondisi ekonomi keluarga Ari memadai, sehingga bisa hidup layak.

"Terkhusus dalam proses perawatan Ari, supaya bisa hidup lebih baik kedepannya. Sementara ini, Ari akan kami rujuk pengobatannya ke rumah sakit daerah," kata Ajeng.