SMK di Bengkulu Berhasil Produksi Minyak Goreng, Gubernur Berjanji akan Bantu Mengurus Hak Patennya
SMK Negeri 6 Kota Bengkulu di Provinsi Bengkulu berhasil memproduksi minyak goreng sendiri dari bahan baku Crude Palm Oil (CPO) lokal.
Bengkulu, kabarsawit.com – SMK Negeri 6 Kota Bengkulu di Provinsi Bengkulu berhasil memproduksi minyak goreng sendiri dari bahan baku Crude Palm Oil (CPO) lokal.
Produk tersebut diberi nama Minyak Goreng Bumi Merah Putih dan resmi diluncurkan dalam ajang Gebyar SMK 2025 pada 27 Mei lalu.
Minyak goreng ini bukan sekadar proyek sekolah biasa. Proses produksinya dilakukan langsung oleh siswa di ruang praktik Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP), sebagai bagian dari implementasi nyata pembelajaran kejuruan berbasis industri.
Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, yang hadir langsung dalam peluncuran produk, menyatakan komitmennya mendukung penuh pengembangan minyak goreng karya siswa ini.
“Kita akan bangun pabrik pengolahan di kawasan sekolah. Hak patennya akan kami bantu urus, dan pemasarannya akan kami kawal hingga bisa tembus pasar nasional bahkan internasional,” tegas Helmi dalam keterangannya dikutip Senin (21/7).
Ia juga menekankan pentingnya kemandirian produksi daerah, terutama dengan memaksimalkan potensi lokal dan keterampilan siswa SMK. “Bayangkan, masyarakat Bengkulu bisa memakai minyak goreng hasil karya anak-anaknya sendiri. Ini luar biasa,” ujarnya.
Produk ini tercipta melalui kolaborasi dengan dua perusahaan sawit besar, yakni PT Agri Andalas dan PT Agricinal, yang menyuplai CPO sebagai bahan baku. Sebelumnya, pelatihan teknis juga digelar di Laboratorium Teknologi Pertanian Universitas Bengkulu pada April 2025 untuk memperkuat kompetensi siswa dan guru.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Rainer Atu, menyatakan bahwa pihaknya siap mendampingi proses produksi, termasuk membuka jalur kerja sama dengan BPOM, Dinas Kesehatan, dan MUI untuk membantu proses perizinan dan standarisasi produk.
Dalam peluncuran tersebut, SMKN 6 juga menggandeng pelaku UMKM dan masyarakat sekitar, memberikan pelatihan produksi agar manfaat program bisa menyebar lebih luas.
“Ekosistem pendidikan vokasi harus diperkuat. SMK bukan hanya mencetak lulusan, tapi juga menghasilkan produk, membuka lapangan kerja, dan menjawab kebutuhan pasar,” kata Helmi.
Langkah SMKN 6 ini menjadi contoh nyata bahwa pendidikan vokasi bisa menjadi motor hilirisasi industri berbasis lokal di Indonesia.***








