Kampung Wisata Batik Laweyan di Solo Terus Berbenah Menuju Industri yang Lebih Ramah Lingkungan
Pelaku usaha batik Kampung Wisata Batik Laweyan di Kota Solo. Foto: Ist.
Solo, kabarsawit.com – Kampung Wisata Batik Laweyan di Kota Solo, Jawa Tengah, terus berbenah menuju industri yang lebih ramah lingkungan. Sekitar 30 dari 40-an pelaku usaha batik di kawasan ini kini telah beralih menggunakan lilin (malam) berbahan dasar minyak sawit dalam proses produksi batik mereka.
Langkah ini menjadi bagian dari gerakan bisnis batik berkelanjutan yang melibatkan kolaborasi komunitas, pemerintah daerah, lembaga perbankan, serta organisasi internasional seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, menyambut baik perubahan ini. Dalam kegiatan sosialisasi batik berkelanjutan di Batik Halus Puspa Kencana, Laweyan, Senin (4/8), ia menyebut penggunaan lilin dari minyak sawit sebagai alternatif yang tidak mencemari lingkungan.
“Produk batik yang memakai lilin berbasis minyak sawit jadi lebih ramah lingkungan. Ini bagian dari komitmen kami untuk mendukung industri batik yang berkelanjutan,” ujarnya.
Astrid juga mengungkapkan bahwa kualitas batik hasil lilin sawit tidak kalah dengan batik konvensional, bahkan memiliki nilai tambah karena lebih bersih dan berkelanjutan.
Bahkan direncanakan, batik ramah lingkungan ini akan diperkenalkan ke panggung nasional dengan menggandeng Miss Batik Indonesia pada Oktober 2025. Tujuannya adalah mengedukasi publik bahwa batik pun bisa menjadi bagian dari industri hijau yang menjaga kelestarian lingkungan.
Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan (FKKBM), Alpha Febela Priyatmono, menyampaikan bahwa upaya beralih ke lilin sawit tidak terjadi dalam semalam. Prosesnya dimulai sejak dua tahun lalu melalui eksperimen dan uji coba hingga akhirnya pada akhir 2024 ditemukan formula lilin sawit yang pas, dengan kandungan stearin mencapai 60%.
“Kami sudah menemukan formula yang pas. Sekarang hasilnya stabil dan bisa digunakan oleh para pengrajin batik di Laweyan,” jelas Alpha.
Ia menambahkan, selisih harga lilin biasa dan lilin sawit hanya sekitar Rp3.000, sehingga masih sangat terjangkau bagi pelaku UMKM batik.
Meski lilin sudah diganti ke versi ramah lingkungan, para pengrajin masih menghadapi tantangan dalam penggunaan pewarna alami. Menurut Alpha, biaya produksi pewarna alami masih tinggi, dan prosesnya memakan waktu lebih lama dibanding pewarna kimia.
Sebagai solusi, mereka mengandalkan IPAL Komunal (Instalasi Pengolahan Air Limbah) untuk mencegah pencemaran ke Sungai Bengawan Solo. Kampung Batik Laweyan sudah memiliki satu IPAL sejak 2007, namun berdasarkan kajian, membutuhkan tiga IPAL agar semua pelaku usaha bisa mengolah limbah secara efektif.***








