https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Dwi Asmono: Potensi Varietas Bibit Sawit Unggul Masih Belum Terwujud Optimal

Dwi Asmono: Potensi Varietas Bibit Sawit Unggul Masih Belum Terwujud Optimal

Ilustrasi bibit Sawit. Foto: Dok Elaeis

Jakarta, kabarsawit.com – Di hadapan peserta IIL di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (11/8), Dwi Asmono, peneliti dan pemulia sawit berpengalaman lebih dari 35 tahun, menegaskan, “Benih itu kecil, tapi memberi harapan besar. Benih adalah infrastruktur strategis ketahanan nasional.”

Perjalanan sawit Indonesia penuh momen penting. Mulai dari pendirian stasiun penelitian pada 1916, industrialisasi era Presiden Soeharto di 1980-an, hingga era inovasi genetik modern dengan teknologi genom.

"Keberhasilan sawit nasional tidak hanya soal luas kebun, tetapi dimulai dari benih unggul yang adaptif terhadap beragam agroklimat nusantara," kata Dwi.

Namun, potensi varietas unggul yang mampu menghasilkan 8–9 ton CPO per hektare per tahun masih belum terwujud optimal. Rata-rata nasional masih di bawah 4 ton, dengan gap produktivitas 37 persen di perkebunan besar dan 47 persen di perkebunan rakyat.

“Dalam kondisi normal, 50 persen wilayah Indonesia cocok untuk sawit. Saat El Niño, turun menjadi 29 persen. Varietas adaptif menjadi kunci,” ujarnya.

Dwi memimpin pengembangan varietas seperti DxP Simalungun, DxP Langkat, dan DxP Sriwijaya, unggul di lahan kering, produktif tinggi, dan berkualitas stabil. Benih ini telah ditanam di 25 provinsi dan diekspor ke Nigeria, India, Peru, hingga Honduras.

Strategi pemuliaan pun berevolusi, dari modified recurrent selection ke genomic selection, didukung teknologi marker-assisted selection, pengeditan genom, analisis epigenetik, dan rekayasa mikrobioma. Indonesia bahkan membentuk konsorsium Oil Palm Genome Project bersama mitra internasional untuk memperkuat daya saing.

Saat ini, Indonesia memiliki 82 varietas sawit terdaftar, kapasitas produksi 540 juta butir per tahun, dan distribusi sekitar 130 juta butir. Kontribusi tim Dwi mencapai 630 juta benih tertanam di 3,1 juta hektare.

Perlindungan varietas di dalam negeri sudah berjalan, namun di pasar ekspor masih lemah. “Kalau kita ekspor ke India, Afrika, Amerika Selatan, perlindungan internasional perlu diperkuat,” tegasnya.

Dwi membagi visi dalam tiga tahap: jangka pendek memperkecil kesenjangan produktivitas, jangka menengah meningkatkan kesejahteraan petani, dan jangka panjang memperkuat efisiensi lahan, ketahanan pangan dan energi, serta daya saing global.

“Indonesia bukan hanya pengekspor minyak sawit. Kita adalah penjaga plasma nutfah, pemulia masa depan, dan pemimpin tropika yang membangun ketahanan pangan dan energi dunia dimulai dari benih,” tutupnya.***