Awas Serangan Hama Kumbang Tanduk yang Tergolong Ganas pada Tanaman Sawit
Ilustrasi serangan hama kumbang pada tanaman kelapa sawit. Foto: Ist Â
Jakarta, kabarsawit.com – Salah satu yang paling merepotkan lahan sawit muda adalah serangan Oryctes rhinoceros yang sering disebut kumbang tanduk atau kumbang badak.
Hama ini dikenal ganas karena menyerang titik tumbuh sawit sehingga tanaman bisa patah pucuk hanya dalam hitungan hari. Bila dibiarkan, pertumbuhan sawit terhambat, bahkan produktivitas jangka panjang bisa menurun drastis.
Namun, bukan berarti serangan kumbang badak tidak bisa dikendalikan. Djend Muhayat, peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), melalui akun resmi Instagram @ppks_id, membagikan cara-cara efektif yang bisa diterapkan di lapangan.
Kuncinya ada pada strategi kombinasi yang konsisten. Ada lima strategi efektif mengendalikan hama kumbang badak pada sawit muda. Yang pertama adalah memastikan jenis hama yang menyerang tanaman sawit.
Menurut Djend, kumbang jantan ditandai dengan tanduk panjang di kepala, sementara kumbang betina memiliki bulu halus di bagian belakang tubuhnya. “Identifikasi ini penting agar petani tidak salah mengambil tindakan,” jelasnya dalam rekaman yang dikutip Selasa (19/8).
Cara mekanis bisa dilakukan dengan memasang jaring setinggi 1,5–5 meter di sekitar areal sawit muda. Jaring ini berfungsi menahan kumbang dewasa yang terbang di malam hari agar tidak sampai menyerang titik tumbuh tanaman. “Metode ini cukup sederhana dan bisa menekan serangan sejak dini,” sebutnya.
Di areal TBM (Tanaman Belum Menghasilkan), khususnya umur satu tahun, penggunaan insektisida masih diperlukan. Djend menyarankan rotasi antara karbosulfan (5 gram per tanaman) dan sipermetrin. Pola pemberiannya bergantian tiap bulan agar hama tidak kebal terhadap bahan kimia. “Dengan cara ini, efektivitas insektisida tetap terjaga,” jelasnya.
Kumbang badak sering berkembang biak di area serasah atau tumpukan pelepah sawit. Untuk memutus siklus hidupnya, bisa digunakan jamur entomopatogen Metarhizium anisopliae dengan dosis 80 gram. Jamur ini menyerang larva kumbang sehingga serasah tidak lagi menjadi tempat perkembangbiakan Oryctes.
Selain cara mekanis dan biologis, petani juga bisa memanfaatkan verotrap atau perangkap feromon agregat. Perangkap ini bekerja dengan memikat kumbang dewasa masuk ke dalamnya. Ambang batas ekonomi serangan dihitung dari tangkapan perangkap. “Jika dalam sebulan jumlahnya lebih dari tiga ekor per trap, maka wajib dilakukan pengendalian lebih lanjut secara intensif,” tukasnya.
Lima strategi ini tidak bisa berdiri sendiri. Kombinasi pengendalian mekanis, kimia, biologis, hingga feromon harus dilakukan secara konsisten. “Pengendalian bukan pekerjaan sekali jalan. Monitoring dan evaluasi rutin sangat penting agar tanaman sawit tetap tumbuh optimal hingga cukup kuat bertahan dari serangan hama,” Djend menegaskan.
“Jangan lupa, tidak semua jaring hanya menangkap Oryctes, kadang ada serangga lain yang ikut terperangkap. Jadi tetap lakukan monitoring rutin,” tambahnya.***








