https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Aspek-PIR Sebut Secara Sosiologi dan Agronomi Tidak Setuju Alih Fungsi Kebun Teh Jadi Sawit di Simalungun

Aspek-PIR Sebut Secara Sosiologi dan Agronomi Tidak Setuju Alih Fungsi Kebun Teh Jadi Sawit di Simalungun

Illustrasi kebun teh. Foto: merdeka.com

Medan, kabarsawit.com - Berbagai sepanduk  penolakan bermunculan di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut) soal peralihan fungsi perkebunan teh menjadi perkebunan kelapa sawit. Penolakan ini muncul di Kecamatan Sidamanik, Panei, dan Dolok Pardamean.

Petani menilai tidak membutuhkan kelapa sawit dan khawatir justru akan merusak lingkungan. Terlebih teh menjadi simbol identitas wilayah serta penjaga kelestarian lingkungan pegunungan Simalungun.

Menyoroti penolakan kehadiran perkebunan kelapa sawit itu, Sekretaris Jenderal (Sekjend) Aspek-Pir, Syarifuddin Sirait mengatakan secara sosiologi dan secara agronomi tanaman teh, pihaknya tidak setuju jika perkebunan teh dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Menurutnya, iklim dan kontur tanah di Simalungun terutama di Sidamanik dan beberapa kecamatan penghasil teh, sangat cocok untuk tanaman tersebut. Malah juga telah dibudidayakan sejak dahulu.

Kendati begitu, jika dilihat dari nilai komersial atau hitungan ekonomi kelapa sawit justru lebih menjanjikan.

"Kita pernah study tour ke wilayah Simalungun pada 2011 lalu, saat itu top management teh di Sidamanik pernah mengatakan bahwa setiap tahun mereka disubsidi oleh negara sebesar Rp3 miliar lantaran tidak menguntungkan atau rugi. Bayangkan besaran subsidi jika kita akumulasikan hingga saat ini," bebernya, Senin (25/8)

Sirait menilai, kerugian diperkebunan teh itu terjadi lantaran sistem tata niaga yang kurang bagus. Dimana rantai pasok masih terlalu panjang, sehingga harga teh yang diterima petani sangat kecil.

"Harga teh ini rusak karena rantai pasok yang panjang. Petai harus menjual ke tengkulak atau agen pengepul. Sehingga harganya tertekan. Bayangkan di Cina teh Sidamanik dijual Rp25.000/sachet, sedangkan di negeri kita hanya Rp1.500 saja.

Lanjutnya, kondisi itu membuat kesejahteraan petani belum dirasakan maksimal hingga saat ini. Sedangkan jika dilihat dari potensi kesejahteraan, komoditi kelapa sawit lebih menjanjikan.

"Tapi ya balik lagi, jika tata niaga diatur dengan benar, petani juga bisa sejahtera lewat perkebunan teh," tandasnya.***