https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Eropa Terus Gaungkan Isu Lingkungan pada Sawit, Maruli Gultom: Karena Persaingan Bisnis

Eropa Terus Gaungkan Isu Lingkungan pada Sawit, Maruli Gultom: Karena Persaingan Bisnis

Ilustrasi - tanaman kelapa sawit.

Jakarta, kabarsawit.com - Komisaris Independen PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), Maruli Gultom menilai penerapan EU Deforestation Regulation (EUDR) yang mulau berlaku pada Desember 2025 bukan semata karena lingkungan, melainkan kedok persaingan bisnis minyak nabati.

“CPO Indonesia dianggap ‘mengancam’ produk minyak nabati Eropa seperti rapeseed dan kedelai. Jadi tudingan soal deforestasi itu lebih banyak bungkus saja, intinya mereka takut kehilangan pasar,” kata Maruli, Sabtu (6/9).

Menurutnya, gangguan Eropa sebenarnya tidak terlalu berarti bagi industri sawit nasional. Pasalnya, ekspor minyak sawit ke Uni Eropa hanya sekitar 5% dari total ekspor sawit Indonesia.

“Pasar utama kita India dan China, dengan permintaan yang terus tumbuh. Sejarahnya, tidak pernah ada masalah ekspor ke sana. Jadi kalau Eropa ribut, dampaknya tidak besar,” ujar pembina Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) periode 2008–2023 ini. 

Lebih jauh, Maruli menceritakan pengalamannya berbicara di Inggris sekitar 2006–2007. Saat itu, ia menanggapi tudingan deforestasi dengan menunjukkan fakta bahwa hutan alam di Eropa sudah lama habis.

“Di seluruh United Kingdom (UK) tidak ada natural forest lagi. Daratan Eropa juga sama. Jadi nggak usah jauh-jauh komplain ke Indonesia. Rapeseed, jagung, kedelai itu dulunya hutan juga, sekarang jadi ladang,” ungkapnya.

Ia menambahkan, menurut kriteria PBB, kelapa sawit termasuk setara dengan hutan sekunder. Banyak lahan kritis dan tanah gersang di Indonesia justru kembali hijau setelah ditanami sawit. 

“Itu malah menghutankan kembali,” imbuhnya.

Jika isu Eropa tak terlalu signifikan, Maruli justru menyoroti kebijakan dalam negeri yang kerap menghambat perkembangan industri sawit. Menurutnya, pengusaha sawit hanya berharap pemerintah tidak terlalu banyak membuat aturan yang mengganggu.

“Industri sawit ini tidak usah dibantu pun bisa maju, asal jangan diganggu. Itu sudah berlaku sejak dulu. Tapi sekarang malah sering muncul aturan yang melelahkan,” katanya.

Contoh nyata, lanjut Maruli, adalah kebijakan subsidi biodiesel. Ia menilai, secara tidak langsung, petani kecil ikut menanggung subsidi untuk masyarakat luas, termasuk pemilik mobil diesel. Padahal, 41% produksi sawit nasional berasal dari petani rakyat, sisanya dari perusahaan besar dan BUMN.

“Jadi sadar nggak sadar, orang kaya di Indonesia itu disubsidi oleh petani kecil sawit. Fair nggak? Ya jelas nggak,” ujarnya.