Petani Sawit di Aceh Timur Menjerit, Produksi Anjlok, Harga Jeblok!
Ilustrasi-TBS kelapa sawit. (Dok. kabarsawit)
Aceh, kabarsawit.com - Penurunan produktivitas kebun kelapa sawit terjadi hampir di seluruh sentra kelapa sawit di Nusantara. Tidak terkecuali di wilayah Aceh Timur, Provinsi Aceh.
Parahnya lagi, di wilayah itu selain hasil produksi kebun turun, petani juga dihadapkan dengan rendahnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang kini hanya dibanderol sekitar Rp2.000-an per kilogram.
Ketua APKASINDO Aceh Timur, Ibrahim Mar juga tidak menampik bahwa produksi turun drastis di Aceh Timur. "Kami sudah melakukan survei ke tiga pabrik. Jumlah buah yang masuk sangat minim, bahkan ada pabrik yang sama sekali tidak mendapatkan pasokan TBS dari luar," kata Ibrahim kepada kabarsawit.com, Jumat (3/3).
Dia mengatakan, ada dua persolan yang menjadi kendala dalam distribusi TBS. Pertama karena masuk musim trek, dan kedua infrastruktur jalan yang rusak parah.
Akibat jalan rusak, TBS milik petani tidak bisa di distribusikan ke pabrik. Meski petani mengakalinya dengan melangsir menggunakan sepeda motor, namun petani tak bisa mengelak untuk mengeluarkan biaya yang lebih besar.
"Jadi ongkos untuk melangsir itu per kilogramnya Rp250, belum lagi tambah ongkos panen. Jadi petani bersih hanya mengantongi Rp500-800/kg dari hasil panen," ujarnya.
Jika dibandingkan dengan harga yang dikeluarkan pabrik, kata Ibrahim, maka petani hanya menikmati tidak lebih dari separuh harga. Untuk itu menurutnya tidak ada solusi lain selain memperbaiki jalan.
"Jalan yang rusak itu kebanyak terjadi di lumbung TBS atau kebun yang berproduksi lumayan banyak. Musim kayak gini saja tidak bisa dilewati apalagi jika sudah hujan," ujarnya.
Bukan hanya jalan, jembatan-jembatan yang ada juga mengkhawatirkan kondisinya. Hingga hanya bisa dilewati oleh sepeda motor. "Kita berharap pemerintah memperhatikan lah jalan produksi ini," paparnya.
Ibrahim mengaku soal perbaikan infrastruktur ini memang ada program dari BPDPKS. Namun untuk mengajukan bantuan itu cukup rumit dengan segala syarat yang diwajibkan. "Kita rasa belum ada program sarpras BPDPKS hingga ke Aceh Timur ini," pungkasnya.





