https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

BPDP Latih Penyandang Disabilitas Bikin Jajanan Pasar, Peserta: Saya Senang Bisa Belajar

BPDP Latih Penyandang Disabilitas Bikin Jajanan Pasar, Peserta: Saya Senang Bisa Belajar

Pelatihan jajanan pasar untuk penyandang disabilitas. Foto: Ist

Jakarta, kabarsawit.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP)  menggandeng HWDI menggelar pelatihan jajanan pasar untuk penyandang disabilitas, yang berlangsung di LKP Gitra Garini Halim.

Pelatihan jajanan pasar ini menghadirkan menu khas seperti lemper, lumpang, pukis, dan bugis mandi, yang diajarkan dari pengolahan bahan baku hingga teknik memasak praktis. 

Menurut Aida Fitria, Ketua Tim Implementasi PUG BPDP 2025, tujuan kegiatan ini bukan sekadar pelatihan memasak, tetapi membuka peluang usaha baru yang inklusif dan berkelanjutan.

“Ini bukan sekadar pelatihan. Ini langkah nyata menuju kemandirian,” ujar Aida. Dengan memanfaatkan komoditas lokal seperti sawit, kakao, dan kelapa, peserta bisa mengubah keterampilan menjadi produk bernilai jual tinggi, yang siap dipasarkan.

Salah satu peserta, Ayu, yang disabilitas tuli, berbagi pengalaman. “Saya senang bisa belajar membuat jajanan pasar yang bermanfaat. Semoga program ini terus berjalan dan bisa membantu teman-teman disabilitas lain,” katanya. 

Pelatihan ini memberi mereka ilmu praktis sekaligus rasa percaya diri untuk mulai membangun usaha dari rumah.

Kerja sama antara BPDP dan HWDI tidak hanya fokus pada teknik memasak. Aspek sosial dan psikologis peserta juga diperhatikan. Peserta belajar bekerja sama, mengatur waktu, dan membangun rasa percaya diri—modal penting bagi siapa saja yang ingin memulai usaha sendiri.

Pelatihan jajanan pasar untuk penyandang disabilitas ini menjadi contoh nyata bagaimana BPDP mendorong kemandirian ekonomi yang inklusif. 

Komoditas perkebunan diolah menjadi produk bernilai tambah, membuka peluang usaha yang lebih luas, sekaligus menumbuhkan semangat mandiri bagi peserta.

Dari dapur sederhana yang hangat itu, setiap lemper, lumpang, pukis, dan bugis mandi yang diolah peserta menjadi simbol harapan dan kemandirian. 

“Kami ingin peserta bisa mengubah ilmu menjadi usaha nyata dan membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk mandiri,” tutup Aida.

Dengan pelatihan jajanan pasar BPDP bagi penyandang disabilitas, terlihat jelas bahwa masa depan inklusif bisa dimulai dari dapur, dengan tangan yang terampil, semangat yang tinggi, dan komoditas lokal yang bernilai.***