https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Pekerja Sawit di Mimika Seperti Ombak Naik-turun Tanpa Kepastian

Pekerja Sawit di Mimika Seperti Ombak  Naik-turun Tanpa Kepastian

Ilustrasi pekerja sawit di Mimika. Foto: gapki.id

Timika, kabarsawit.com – Kerja berat, tapi bayaran belum tentu sepadan. Itulah potret yang mencuat dalam diskusi yang diungkapkan Ketua Komunitas Pemuda Kei (KPK) Timika, Edoardus Rahawadan.

Menurut Edoardus, sistem kerja di perkebunan sawit di Kabupaten Mimika membuat pekerja seolah berlari di treadmill yang tak pernah berhenti. 

Upah ditentukan dari jumlah pohon yang berhasil dibersihkan dan dirawat. Kedengarannya sederhana, tapi di lapangan ceritanya jauh lebih rumit. Tubuh dipaksa kuat, stamina diperas habis, sementara target harian sering kali sulit dicapai.

“Kalau target nggak terpenuhi, bayaran langsung turun. Padahal kerjanya jelas capek, bersih-bersih dan rawat pohon itu bukan pekerjaan ringan,” kata Edoardus. 

Kalimat itu seperti alarm keras yang membangunkan kenyataan pahit: kerja keras belum tentu berujung pada penghasilan layak.

Di bawah terik matahari Papua yang menyengat, para pekerja harus menembus semak, mengangkat alat, membersihkan gulma, dan memastikan pohon sawit tetap terawat.

Setiap ayunan parang dan setiap tetes keringat seakan dihitung dengan angka. Target menjadi raja, sementara kondisi fisik manusia kerap diabaikan.

Situasi makin terasa berat ketika pendapatan harian jadi tak menentu. Hari ini dapat cukup, besok bisa anjlok. Fluktuasi upah ini, kata Edoardus, menjadi keluhan klasik yang terus berulang. Seperti ombak, naik-turun tanpa kepastian, membuat pekerja sulit merencanakan kebutuhan hidup.

Tak berhenti di situ, Edoardus juga menyoroti janji perusahaan soal upah dan stabilitas kerja yang disebut-sebut belum sepenuhnya ditepati. Janji yang dulu terdengar manis, kini terasa menggantung di udara. “Harapan kami sebenarnya sederhana. Janji ditepati, kompensasi adil. Itu saja,” ujarnya.***