Tak Hanya Petani, Perusahaan Sawit juga Keberatan dengan Usulan PAP
Ketua Gapki Sumbar, Bambang Wiguritno. Foto: singgalang.co.id
Padang, kabarsawit.com - Usulan Penerapan Pajak Air Permukaan (PAP) dinilai berpotensi memberatkan berbagai pihak, tidak hanya petani tetapi juga perusahaan kelapa sawit.
Jika kebijakan ini benar-benar diberlakukan, dikhawatirkan akan berdampak langsung pada penurunan harga tandan buah segar (TBS).
Hal tersebut diutarakan Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Bambang Wiguritno, Selasa (3/2) kemarin.
Cerita Bambang, usulan PAP tersebut bukan hanya ada di Riau, provinsi Sumbar justru sudah lebih dulu diusulkan. Malah saat ini kebijakan PAP tersebut telah disosialisasikan kepada para pemangku kepentingan. Katanya konsep ini juga telah diberlakukan di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar)
Kendati begitu, untuk realisasinya kata Bambang belum dilaksanakan. Pihaknya mengaku akan berdialog dengan pimpinan pemerintah Provinsi Sumbar. Membahas serta mempertimbangkan dampak ekonomi serta keberlanjutan sektor pertanian dan perkebunan di daerah.
"Untuk usulan ini kita berencana akan berdiskusi dengan para pimpinan pemerintah Provinsi Sumbar. Ini akan sangat memberatkan bagi pelaku perkebunan kelapa sawit nantinya," imbuhnya.
Bambang juga sependapat dengan Ketua Umum Gapki Eddy Martono yang sebelumnya mengatakan kebijakan itu akan melahirkan beban baru di sektor industri sawit disamping tekanan yang sudah ada saat ini.
"PAP ini justru beban bagi industri sawit," ujarnya.
Menurut Eddy, sebelum PAP, industri sawit baik daerah maupun nasional telah menanggung berbagai kewajiban. Mulai dari pungutan restribusi pungutan ekspor, hingga kebijakan Dana Hasil Ekspor (DHE) yang mewajibkan penahanan 50 persen devisa ekspor selama satu tahun.
"PAP sebesar Rp1.700/batang ini akan turut meningkatkan biaya produksi semakin mahal. Bahkan juga berdampak pada daya saing nasional di pasar global. Jika sudah begitu maka harga TBS sudah tidak lagi kompetitif," katanya.
Kata Eddy dampak akan semakin luas, bahkan berpotensi menekan harga Crude Palm Oil (CPO) di tingkat produsen. Pada akhirnya, kondisi tersebut akan berimbas langsung pada harga Tandan Buah Segar (TBS) yang diterima petani.***








