Serap 19,5 Juta Tenaga Kerja, BPDP: Sawit Aset Strategis Nasional
Ilustrasi pekerja sawit. Foto: gapki.id
Jakarta, kabarsawit.com – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) menyampaikan, Indonesia saat ini masih memegang status sebagai eksportir kelapa sawit terbesar di dunia.
Capaian tersebut sekaligus menempatkan sawit sebagai salah satu sektor dengan daya ungkit ekonomi paling kuat, terutama dari sisi penciptaan lapangan kerja.
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, menyebut sawit bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan aset strategis nasional. Menurutnya, dampak sawit terhadap tenaga kerja bersifat luas dan berlapis, dari hulu hingga hilir.
“Keberadaan sawit memberi kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja. Dampaknya terasa langsung ke ekonomi masyarakat, terutama di daerah sentra perkebunan,” ujar Zaid dalam media briefing di Jakarta, Selasa (10/2).
Zaid mengungkapkan, penyerapan tenaga kerja di sektor sawit terus menunjukkan tren meningkat. Pada 2020, jumlah tenaga kerja sawit tercatat sekitar 16,2 juta orang. Dalam beberapa tahun terakhir, angka tersebut naik signifikan hingga mencapai 19,5 juta orang.
Tenaga kerja tersebut tersebar di berbagai bidang, mulai dari pekerja kebun, pemanen, mandor, hingga sektor transportasi dan jasa pendukung lainnya. Rantai panjang industri sawit membuat manfaat ekonominya mengalir ke banyak sektor sekaligus.
“Mulai dari kebun sampai distribusi, sawit membuka banyak peluang kerja. Ini yang membuat kontribusinya ke ekonomi nasional semakin kuat,” jelasnya.
Meski demikian, Zaid mengakui produktivitas sawit Indonesia masih berada di bawah Malaysia. Namun, dari sisi luas lahan dan total produksi, Indonesia tetap menjadi pemain utama dan produsen terbesar sawit dunia.
“Kalau bicara produktivitas, kita memang masih perlu mengejar. Tapi dari luas lahan dan volume produksi, Indonesia masih yang terbesar,” katanya.
Selain berperan dalam penyerapan tenaga kerja, sawit juga dinilai strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional. Pemerintah saat ini telah menjalankan program biodiesel B40, di mana 40 persen kandungan bahan bakar berasal dari bahan bakar nabati berbasis sawit.
Program ini dinilai mampu menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil. Zaid menyebut, penerapan biodiesel memberikan efek langsung terhadap penghematan devisa negara.
“Dengan B40, impor bahan bakar bisa ditekan. Artinya, devisa yang sebelumnya keluar untuk beli BBM dari luar negeri bisa dihemat,” ujarnya.
Pada 2024, program biodiesel berbasis sawit tercatat mampu menghemat devisa hingga Rp147,5 triliun. Penghematan tersebut berasal dari berkurangnya impor solar yang digantikan oleh biodiesel produksi dalam negeri.
Dengan kontribusi besar terhadap tenaga kerja, devisa, dan energi, sektor kelapa sawit masih diproyeksikan menjadi penyangga utama perekonomian Indonesia.
Di tengah tantangan global yang terus berubah, sawit tetap berdiri kokoh, menghidupi jutaan orang, sekaligus menjaga denyut ekonomi nasional tetap hidup.***








