https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Tergiur Janji Palsu Membeli Bibit Sawit Murah Berkualitas Rendah, Petani Ini Mengaku Menyesal

Tergiur Janji Palsu Membeli Bibit Sawit Murah Berkualitas Rendah, Petani Ini Mengaku Menyesal

Ilustrasi bibit sawit. Foto: bpdp.or.id

Jambi, kabarsawit.com – Bejo, petani sawit di Desa Suak Putat, Muaro Jambi, Jambi, masih menyesali keputusannya membeli bibit sawit murah yang ternyata berkualitas rendah.

Janji panen cepat dengan hasil melimpah membuatnya tergiur, namun kenyataan bertahun-tahun kemudian justru mengecewakan.

“Bibit yang saya beli dulu ternyata abal-abal, jadi hasil panen sangat mengecewakan,” kata Bejo, Kamis (19/2).

Kasus yang dialami Bejo bukan hal langka, banyak petani mandiri yang kurang pengetahuan teknis dan sulit mengakses informasi membuat mereka mudah tertipu bibit murah, meskipun kesalahan memilih bibit dapat berdampak pada rendahnya hasil panen hingga bertahun-tahun.

Sumarni Ningsih, petani sawit di Desa Long Tesak, Kutai Timur, juga menghadapi masalah serupa.

Selama bertahun-tahun, ia mengelola kebunnya hanya mengikuti kebiasaan turun-temurun tanpa memahami prinsip dasar agronomi, mulai dari pemilihan bibit hingga pengendalian hama dan penyakit.

“Saya dulu cuma meniru cara orang sebelumnya, tanpa tahu apakah itu benar,” ujarnya.

Kenyataan ini membuat banyak petani tidak menyadari bahwa hal-hal dasar, seperti memilih bibit bersertifikat dan melakukan pemupukan dengan cara tepat, sangat menentukan hasil panen.

Kesadaran tersebut mulai muncul setelah beberapa petani mengikuti pelatihan Perkasa (Petani Berkualitas dan Sejahtera), program TAP untuk Negeri dari PT Triputra Agro Persada Tbk. Pelatihan ini menekankan peningkatan kemampuan agronomi petani sawit mandiri.

Selama tiga hari, peserta belajar langsung di lapangan yaitu cara mengenali bibit bersertifikat, teknik pemupukan yang benar, metode panen, hingga prosedur pruning yang tepat.

Subeki, petani Desa Baung, Seruyan, Kalimantan Tengah, menyebutkan pelatihan tersebut membuatnya lebih disiplin dalam memangkas pelepah sawit.

“Dulu saya pikir asal dipotong saja sudah cukup. Ternyata ada aturannya dan ini penting untuk pertumbuhan tanaman serta memudahkan panen,” kata Subeki.

Hingga akhir 2025, program Perkasa telah menjangkau petani mandiri di 69 desa di 10 kabupaten di Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Petani mulai menatap kebun sebagai tempat belajar dan meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan keluarga.

Industri sawit Indonesia menjadi pilar ekonomi nasional, menyumbang devisa sekitar 27 miliar dollar AS pada 2024 dan menyerap 16 juta tenaga kerja.

Meski begitu, sektor ini menghadapi tantangan tata kelola lahan, isu lingkungan, serta fluktuasi harga global.***