Penting Revolusi Teknologi Sawit Rendah Emisi untuk Memperkuat Daya Saing
Jakarta, kabarsawit.com - Industri kelapa sawit nasional didorong masuk ke babak baru. Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menekankan pentingnya revolusi teknologi sawit rendah emisi sebagai langkah strategis memperkuat daya saing Indonesia di pasar global sekaligus menjawab tuntutan keberlanjutan.
Direktur Eksekutif GIMNI, Sahat Sinaga, mengatakan industri sawit nasional tidak bisa lagi bertahan dengan teknologi lama yang dinilai sudah usang. Modernisasi sistem produksi dinilai menjadi kunci meningkatkan efisiensi sekaligus menekan emisi karbon.
“Kita harus mulai sekarang berpikir untuk merevolusi teknologi. Teknologi yang sekarang sudah tidak relevan dengan tantangan industri global,” ujar Sahat dalam acara berbuka puasa bersama awak media di Jakarta, Rabu (25/2).
Menurut Sahat, perubahan teknologi pengolahan sawit yang telah digunakan lebih dari satu abad di Indonesia menjadi kebutuhan mendesak. Transformasi ini diharapkan mampu membawa industri menuju sistem produksi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan bernilai tambah tinggi.
Gagasan revolusi teknologi tersebut muncul setelah kunjungannya ke perusahaan teknologi tinggi IES Group Global di China yang mampu memantau produktivitas dan kualitas produksi secara menyeluruh, mulai dari proses awal hingga akhir.
Selain itu, ia juga mendapat penugasan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk berdialog dengan lembaga di bawah Kementerian Ekologi dan Lingkungan China, Chinese Society of Environmental Sciences (CSES), terkait transformasi sawit rendah emisi.
Dalam forum internasional sebelumnya, Sahat juga memperkenalkan konsep “Total Sustainability” yang menawarkan pendekatan baru terhadap industri sawit. Ia menilai kualitas minyak tidak seharusnya hanya diukur dari komposisi kimia, tetapi juga kandungan nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan.
GIMNI memperkirakan pembaruan teknologi dapat menurunkan emisi karbon hingga 78 persen atau setara 45,3 juta ton CO2 ekuivalen per tahun. Jika harga karbon berada di kisaran 15 dolar AS per ton, potensi nilai perdagangan karbon dapat mencapai hampir 700 juta dolar AS per tahun.
Transformasi tersebut membutuhkan investasi besar. GIMNI menghitung kebutuhan pendanaan mencapai sekitar Rp345 triliun, meliputi Rp171 triliun untuk peremajaan kebun sawit seluas 2,5 juta hektare dan Rp141 triliun untuk modernisasi mesin produksi.
Program berkelanjutan hingga 2032 juga ditargetkan mampu meningkatkan produktivitas petani. Produksi yang saat ini rata-rata 9,3 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun diharapkan meningkat menjadi 21,3 ton per hektare per tahun.
Sahat menambahkan pemanfaatan teknologi satelit juga akan dioptimalkan, termasuk untuk mendeteksi penyakit tanaman seperti Ganoderma yang selama ini menjadi ancaman produktivitas kebun sawit.
Acara tersebut turut dihadiri perwakilan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) dan Asosiasi Perusahaan Oleochemical Indonesia (Apolin), yang sama-sama mendorong transformasi industri sawit nasional agar lebih kompetitif dan berkelanjutan.
GIMNI optimistis kombinasi inovasi teknologi, investasi, serta transformasi sistem produksi akan membawa industri sawit Indonesia memasuki era baru yang lebih hijau, efisien, dan mampu bersaing di panggung global.***








