https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Struktur Biaya Pengiriman Sawit Indonesia Membuat Daya Saing Ekspor Berpotensi Kalah

Struktur Biaya Pengiriman Sawit Indonesia Membuat Daya Saing Ekspor Berpotensi Kalah

Ilustrasi perkebunan sawit. Foto: bpdp.or.id

Jakarta, kabarsawit.com – Kebijakan tarif ekspor 0 persen minyak sawit ke Amerika Serikat dinilai belum tentu menguntungkan Indonesia. Industri menilai persoalan utama bukan pada tarif, melainkan biaya logistik yang lebih mahal dibanding negara pesaing seperti Malaysia.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, mengatakan struktur biaya pengiriman sawit Indonesia membuat daya saing ekspor berpotensi kalah, meski tarif perdagangan lebih rendah.

Menurut Sahat, biaya pengiriman sawit dari wilayah produksi di Indonesia harus melalui rantai distribusi panjang sebelum menuju pasar global. Produk dari daerah harus dikirim terlebih dahulu ke pusat logistik seperti Jakarta sebelum diekspor ke luar negeri.

“Dari daerah ke Papua saja bisa sekitar 30 dolar per ton, lalu pengiriman ke Amerika bisa mencapai 110 dolar. Sementara Malaysia mungkin hanya sekitar 90 dolar karena jaraknya lebih dekat,” kata Sahat, Jumat (27/2). 

Ia menilai selisih biaya tersebut membuat posisi Indonesia kurang kompetitif. Artinya, meskipun tarif ekspor Indonesia lebih rendah, keunggulan tersebut bisa tergerus oleh tingginya ongkos distribusi.

Menurutnya, kebijakan tarif 0 persen seharusnya dikaji secara komprehensif, tidak hanya dilihat dari sisi dokumen kebijakan. 

Perhitungan biaya logistik, struktur produksi, dan rantai pasok harus menjadi pertimbangan utama.

“Jangan hanya senang di atas kertas. Harus dihitung secara detail dampaknya terhadap biaya dan daya saing ekspor,” ujarnya.

Sahat menjelaskan ekspor sawit Indonesia ke Amerika Serikat selama ini lebih banyak dalam bentuk produk turunan dibandingkan minyak mentah. Produk tersebut antara lain oleochemical, bahan kosmetik, hingga kebutuhan industri rumah tangga.

Ia menyebut salah satu perusahaan pengguna terbesar produk turunan sawit Indonesia di pasar Amerika adalah Procter & Gamble yang memanfaatkan bahan baku sawit untuk berbagai produk konsumen.

Karena itu, kebijakan ekspor dinilai perlu diarahkan untuk memperkuat industri hilir dalam negeri agar nilai tambah lebih tinggi dan tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah. Selain itu, pembenahan sistem logistik nasional juga menjadi kunci agar sawit Indonesia tetap kompetitif di pasar global.***