Riri Minta Bulog Ikut Serta Awasi Peredaran Minyak Goreng di Medsos
Anggota DPD RI Riri Damayanti.
Bengkulu, kabarsawit.com - Anggota DPD RI daerah pemilihan Provinsi Bengkulu Riri Damayanti meminta agar Badan Urusan Logistik (Bulog) divisi regional Bengkulu agar ikut serta mengawasi peredaran minyak goreng (Migor) di daerah.
Sebab dalam beberapa pekan ini banyak laporan masyarakat terhadap adanya penjualan minyak goreng di media sosial dan online yang harganya jauh lebih murah sementara di lapangan Migor justru langka dan mahal.
"Sebagai stakeholder yang masuk dalam Satgas Pangan, Bulog mesti melakukan pengawasan secara rutin terhadap kelangkaan Migor subsidi di beberapa distributor sebab di pasaran harganya telah melebihi harga eceran tertinggi atau HET," ujarnya, kemarin.
Riri mendorong ada pengawasan intensif terhadap distributor maupun pedagang besar dilakukan mengingat dalam waktu dekat akan memasuki bulan Ramadhan, di mana ada kecendrungan konsumsi masyarakat yang meningkat.
"Pengawasan juga harus dilakukan terhadap pedagang yang memperjual belikan minyak goreng dalam bentuk apapun melalui media sosial seperti Facebook dengan harga yang tidak sesuai HET dari pemerintah," imbuhnya.
Riri menuturkan, pemerintah hendaknya memastikan operasi pasar terus berlangsung di seluruh kabupaten/kota hingga harga beras turun dan kembali stabil serta hendaknya jangan hanya dadakan pada hari-hari besar, namun juga harus berjalan secara berkesinambungan bukan hanya di tempat-tempat strategis namun juga menjangkau daerah-daerah pelosok pedesaan.
"Operasi pasar yang digelar pemerintah hendaknya tidak hanya menyasar kepada untuk masyarakat, tetapi juga untuk pedagang sehingga mereka mendapatkan harga beli yang bagus dan dapat menjualnya kembali dengan harga yang wajar," ujarnya.
Riri berharap harga-harga kebutuhan pokok telah terjangkau dengan menyiapkan stok yang cukup dan distribusi yang baik sebelum masyarakat menjalani bulan Ramadan sehingga ibadah pada bulan suci ini dapat berjalan dengan khusyuk dan tenang.
"Berikan tindakan keras bila menemukan adanya penimbunan barang yang dapat menyebabkan kenaikan harga. Selain itu juga anggaran yang dialokasikan untuk menyerap komoditas pangan seperti Migor, beras, sayuran dan buah-buahan milik pribumi lokal harus lebih banyak sehingga petani dapat sejahtera," papar Riri.
Apalagi dari berbagai aspirasi yang ia peroleh dari Perum Bulog Wilayah Provinsi Bengkulu seperti tidak dapat menstabilkan harga Migor dalam beberapa waktu belakangan, serta sulitnya menyerap beras petani lokal karena selain produksinya rendah, kualitasnya masih di bawah standar.
"Juga disarankan agar berdirinya pabrik Migor di Bengkulu, Bulog dapat menjadi produsen CPO terbesar ketiga di Indonesia guna mendongkrak pendapatan petani sawit dan kesejahteraan daerah," kata Riri.








