Harga Minyak Fosil Naik, Harga CPO dan TBS Petani Ikut Terdongkrak
Wakil Sekretaris Jenderal DPP APKASINDO Bidang Organisasi, Keanggotaan, Hukum dan Advokasi, Fadhli Ali. Foto: Ist
Jakarta, kabarsawit.com - Gejolak geopolitik global yang memicu kenaikan harga minyak bumi dunia mulai memberikan efek domino terhadap pasar komoditas energi, termasuk minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).
Lonjakan harga energi fosil membuat investor berbondong-bondong masuk ke sektor komoditas energi, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga CPO di pasar internasional serta berdampak pada peningkatan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.
Kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir telah meningkatkan minat industri energi untuk mencari alternatif bahan bakar yang lebih ekonomis. Salah satu komoditas yang paling diuntungkan dari kondisi tersebut adalah CPO, yang banyak digunakan sebagai bahan baku biodiesel.
Petani kelapa sawit sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Bidang Organisasi, Keanggotaan, Hukum dan Advokasi, Fadhli Ali, mengatakan bahwa kenaikan harga minyak fosil secara historis memang memiliki hubungan positif dengan pergerakan harga CPO di pasar global.
Menurutnya, ketika harga minyak bumi meningkat tajam, berbagai negara mulai meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan, termasuk biodiesel berbahan baku minyak sawit. Kondisi tersebut secara langsung mendorong peningkatan permintaan CPO.
“Ketika harga minyak fosil naik, permintaan terhadap CPO sebagai bahan baku biodiesel juga meningkat. Ini karena CPO menjadi alternatif energi yang lebih ekonomis dibandingkan minyak fosil yang harganya sedang tinggi,” kata Fadhli, Minggu (8/3).
Tidak hanya dari sisi konsumsi energi, kenaikan harga minyak dunia juga menarik minat investor global untuk menanamkan modal di sektor komoditas energi. Arus investasi ini menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong kenaikan harga CPO di pasar internasional.
Menurut Fadhli, masuknya investor ke sektor komoditas bahan bakar, termasuk minyak sawit, memperkuat sentimen pasar sehingga harga CPO bergerak naik. Kenaikan harga tersebut kemudian berimbas pada harga pembelian CPO oleh industri pengolahan, yang akhirnya berdampak langsung pada harga TBS di tingkat petani.
“Ketika investor mulai masuk ke sektor komoditas energi, harga CPO ikut terdorong naik. Dampaknya bisa dirasakan petani karena harga tandan buah segar di tingkat kebun juga ikut meningkat,” ujarnya.
Selain faktor pasar global, kebijakan energi nasional juga turut memperkuat permintaan terhadap CPO. Pemerintah Indonesia saat ini terus meningkatkan program mandatori biodiesel, seperti penerapan campuran biodiesel B35 dan rencana peningkatan ke B40.
Program tersebut menyerap jutaan ton CPO setiap tahun untuk kebutuhan energi domestik. Semakin besar porsi CPO yang dialokasikan untuk biodiesel, maka pasokan minyak sawit untuk kebutuhan pangan global otomatis berkurang.
Kondisi tersebut menciptakan keseimbangan baru dalam mekanisme pasar. Ketika pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga komoditas cenderung mengalami kenaikan.
“Ketika lebih banyak CPO digunakan untuk energi, pasokan ke pasar pangan global menjadi lebih terbatas. Hukum pasar berlaku, ketika supply berkurang dan demand tetap tinggi, harga akan terdorong naik,” jelas Fadhli.
Saat ini harga CPO masih menunjukkan tren positif. Berdasarkan perkembangan terbaru, harga CPO tercatat berada di kisaran Rp14.950 per kilogram. Angka tersebut naik dibandingkan posisi pada 3 Maret 2026 yang berada di sekitar Rp14.800 per kilogram.
Kenaikan harga CPO tersebut menjadi kabar baik bagi petani kelapa sawit karena berpotensi meningkatkan pendapatan mereka melalui kenaikan harga TBS. Namun demikian, Fadhli mengingatkan bahwa peluang tersebut juga diiringi sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai.
Salah satu risiko yang mulai muncul adalah kenaikan harga pupuk, terutama pupuk yang bahan bakunya masih bergantung pada impor. Indonesia saat ini belum sepenuhnya mandiri dalam penyediaan bahan baku pupuk, khususnya kalium klorida (KCl) yang merupakan komponen utama dalam pupuk NPK.
Menurutnya, Indonesia tidak memiliki cadangan mineral potas dalam jumlah signifikan sehingga masih bergantung pada pasokan dari negara lain seperti Kanada, Rusia, Belarus, dan China.
Ketergantungan impor tersebut membuat harga pupuk domestik sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik global dan pergerakan harga komoditas internasional.
“Bahan baku pupuk KCl sebagian besar masih impor. Jika terjadi gangguan pasokan global atau kenaikan harga di pasar internasional, maka harga pupuk di dalam negeri juga ikut terdampak,” katanya.
Bahkan, ia mengaku sudah mulai mendengar kabar bahwa harga pupuk mulai mengalami kenaikan sejak awal pekan ini.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah terkait pungutan ekspor juga turut memengaruhi dinamika industri sawit. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 9 Tahun 2026 menetapkan kenaikan tarif pungutan ekspor CPO menjadi 12,5 persen dari sebelumnya sebesar 10 persen.
Kebijakan tersebut mulai berlaku sejak 1 Maret 2026 dan mengatur perubahan tarif pungutan layanan umum ekspor sawit yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit.
Fadhli menilai kenaikan tarif tersebut berarti kontribusi sektor perkebunan sawit terhadap penerimaan negara melalui pungutan dan pajak ekspor menjadi lebih besar.
Meski demikian, ia memperkirakan kenaikan harga CPO tidak akan berlangsung tanpa batas. Jika harga sawit terlalu tinggi, konsumen global biasanya akan mencari komoditas alternatif seperti minyak kedelai, minyak bunga matahari, minyak jagung, maupun canola.
“Jika harga CPO terlalu mahal, pasar akan melakukan koreksi karena konsumen bisa beralih ke minyak nabati lain,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa harga berbagai komoditas minyak nabati dunia pada dasarnya saling berkaitan dalam jangka panjang. Artinya, pergerakan harga minyak sawit, kedelai, canola, dan bunga matahari cenderung saling memengaruhi.
Dengan kondisi tersebut, Fadhli berharap dampak konflik global yang memicu kenaikan harga energi dapat tetap memberikan keuntungan bagi petani sawit.
“Kita berharap kenaikan harga TBS yang diterima petani bisa lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya produksi seperti pupuk, sehingga petani benar-benar merasakan manfaat dari tren kenaikan harga CPO,” tutupnya.***








