https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Kurangi Impor Solar, B50 Siap Diluncurkan Tahun Ini

Kurangi Impor Solar, B50 Siap Diluncurkan Tahun Ini

Ujicoba B50. Foto: bpdp.or.id

Jakarta, kabarsawit.com – Program biodiesel B50 berbasis minyak sawit (CPO) siap diluncurkan tahun ini. Campuran 50 persen biodiesel dan 50 persen solar ini menjadi strategi pemerintah untuk mengurangi impor solar sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Dengan B50, kebutuhan bahan baku biodiesel diperkirakan naik signifikan, dari B40 sekitar 14 juta ton CPO menjadi 17,5–18 juta ton.

Artinya, tambahan sekitar 3,5–4 juta ton CPO akan diserap pasar domestik, yang berpotensi menekan volume ekspor jika produksi tidak meningkat.

Pemerintah juga menaikkan pungutan ekspor CPO dari 10 persen menjadi 12,5 persen per 1 Maret 2026. Pungutan produk turunan sawit ikut naik menjadi 2,5 persen.

Dana ini dikelola BPDPKS untuk subsidi biodiesel, menutup selisih harga antara biodiesel sawit dan solar impor yang lebih murah. Harga biodiesel diperkirakan Rp15.000–Rp16.500 per liter, sementara solar impor sekitar Rp10.500–Rp11.500 per liter.

Meski lebih mahal, pemerintah menekankan bahwa B50 bukan soal harga semata. Program ini juga menjaga stabilitas harga CPO domestik, menyerap permintaan lokal, dan meningkatkan nilai tambah industri sawit.

Sejumlah emiten CPO mencatat kinerja menarik sepanjang 2025:

- SMAR (Sinar Mas Agro): Laba Rp2,58 triliun, naik lebih dari 100 persen YoY. Margin tinggi dari bisnis hilir seperti minyak goreng dan oleokimia membuat SMAR jadi favorit jika permintaan biodiesel meningkat.

- SIMP (Salim Ivomas Pratama): Laba Rp2,06 triliun, naik 33 persen YoY. Integrasi penuh dari perkebunan ke produk turunan membuat SIMP lebih resilien terhadap fluktuasi harga CPO.

- AALI (Astra Agro Lestari): Laba Rp1,47 triliun, naik 28 persen YoY. Kebun luas 284.831 ha jadi kekuatan, meski perlu replanting rutin untuk menjaga produktivitas jangka panjang.

- LSIP (London Sumatra Indonesia): Laba Rp1,88 triliun, naik 27,8 persen YoY. Struktur keuangan solid dan fokus riset benih unggul mendukung potensi keuntungan jika harga CPO naik.

- TLDN (Teladan Prima Agro): Laba Rp1,10 triliun, naik 34 persen YoY. Lahan produktif 60.500 ha di Kaltim dan efisiensi logistik jadi nilai plus.

- BWPT (Eagle High Plantations): Laba Rp361,72 miliar, naik 39 persen YoY. Masih dalam fase perbaikan kinerja, sehingga sensitif terhadap harga CPO, tapi kenaikan permintaan domestik tetap mendukung margin.

Sehingga bisa diambil kesimpulan, emiten dengan integrasi bisnis ke hilir seperti SMAR dan SIMP diproyeksikan paling diuntungkan.

Perusahaan perkebunan seperti AALI dan LSIP tetap bisa menikmati kenaikan harga CPO, sedangkan TLDN dan BWPT memiliki profil operasional berbeda.

Implementasi B50 tidak tanpa hambatan. Subsidi biodiesel butuh dana besar, sementara sebagian metanol masih diimpor. Kebutuhan metanol mencapai 3,6 juta ton, kapasitas produksi lokal baru sekitar 700 ribu ton.

Selain itu, campuran biodiesel 50 persen berpotensi menekan mesin kendaraan lama, sehingga pemerintah kemungkinan menerapkan B50 secara bertahap.***