https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Konflik Timteng Mulai Memberi Tekanan pada Jalur Ekspor Sawit Indonesia

Konflik Timteng Mulai Memberi Tekanan pada Jalur Ekspor Sawit Indonesia

Ketua Umum Gapki, Eddy Martono. Foto: gapki.id

Jakarta, kabarsawit.com  – Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai memberi tekanan pada jalur perdagangan global, termasuk ekspor kelapa sawit Indonesia.

Sejumlah pengiriman sawit yang sebelumnya melintasi Selat Hormuz kini harus dialihkan melalui rute alternatif yang lebih panjang, yakni lewat Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan dinamika geopolitik tersebut berdampak langsung terhadap rantai pasok ekspor sawit Indonesia, terutama ke pasar Eropa.

Menurutnya, sekitar 1,83 juta ton ekspor sawit Indonesia selama ini melewati jalur Selat Hormuz yang menjadi salah satu koridor penting perdagangan energi dan komoditas dunia.

Namun meningkatnya ketegangan di Timur Tengah membuat jalur tersebut dinilai lebih berisiko bagi aktivitas pelayaran.

“Sebagian pengiriman harus memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Jalurnya memang lebih panjang, tetapi dinilai lebih aman dalam situasi saat ini,” ujar Eddy dalam acara jumpa pers di Jakarta, Kamis (12/3).

Perubahan rute pengiriman tersebut membawa konsekuensi pada biaya logistik. Eddy mengungkapkan ongkos pengiriman dan asuransi untuk ekspor sawit menuju Eropa meningkat cukup tajam.

Kenaikan biaya logistik bahkan diperkirakan mencapai sekitar 50 persen, terutama karena jarak tempuh yang lebih jauh serta meningkatnya premi asuransi kapal yang melintasi kawasan rawan konflik.

Meski demikian, industri sawit nasional dinilai masih mampu bertahan di tengah tekanan global tersebut.

Di tengah tantangan geopolitik dan regulasi global, kinerja ekspor sawit Indonesia sepanjang 2025 justru menunjukkan peningkatan. Nilai ekspor tercatat mencapai US$35,87 miliar atau sekitar Rp500 triliun, naik dibandingkan 2024 yang sebesar US$27,76 miliar.

Volume ekspor juga meningkat menjadi sekitar 32,3 juta ton pada 2025. Capaian tersebut menegaskan peran penting industri kelapa sawit sebagai salah satu penopang ekonomi nasional.

“Industri sawit ini luar biasa dan menjadi salah satu penopang ekonomi nasional. Ini industri strategis yang harus dijaga,” kata Eddy.

Saat ini, produk sawit Indonesia telah menjangkau sekitar 177 negara tujuan ekspor di berbagai kawasan dunia. Selain pasar utama di Asia dan Eropa, permintaan dari kawasan Afrika juga mulai menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Selain faktor geopolitik, industri sawit Indonesia juga menghadapi tantangan dari kebijakan internasional. Salah satunya adalah European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mulai diberlakukan oleh Uni Eropa.

Regulasi tersebut mewajibkan produk komoditas, termasuk sawit, untuk memiliki bukti bahwa produksinya tidak terkait dengan deforestasi.

Eddy menilai banyak petani sawit di Indonesia masih menghadapi kendala dalam memenuhi persyaratan tersebut, terutama terkait legalitas lahan.

Karena itu, pelaku industri mendorong pemerintah mempercepat penyelesaian berbagai persoalan legalitas agar ekspor sawit Indonesia tidak terhambat di pasar global.

Meski menghadapi tantangan geopolitik, regulasi global, hingga peningkatan biaya logistik, GAPKI menilai industri sawit tetap memiliki peran strategis bagi perekonomian Indonesia.

Selain menjadi sumber devisa besar, sektor ini juga menopang jutaan tenaga kerja dan menjadi sumber penghidupan bagi petani di berbagai daerah.

Eddy menegaskan pentingnya menjaga kebijakan yang kondusif agar industri sawit tetap kompetitif di pasar global.

“Jangan sampai kebijakan yang kurang mendukung justru melemahkan industri sawit. Kalau itu terjadi, industri strategis ini bisa saja hanya menjadi cerita sejarah,” ujarnya.

Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik global, pelaku industri kini terus memantau perkembangan jalur perdagangan internasional.

Diversifikasi rute pengiriman, termasuk melalui Tanjung Harapan, menjadi salah satu strategi agar ekspor sawit Indonesia tetap berjalan di tengah ketidakpastian global.***