https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Berbahan Limbah Kelapa dan Sawit, Tengah Dikembangkan Genting Tahan Gempa

Berbahan Limbah Kelapa dan Sawit, Tengah Dikembangkan Genting Tahan Gempa

Genting tahan gempa. Foto: Ist

Jakarta, kabarsawit.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi genting ringan berbahan limbah kelapa dan sawit. Produk ini ditujukan untuk wilayah rawan gempa di Indonesia, sekaligus menawarkan solusi ramah lingkungan dan hemat energi.

Genting ringan ini diproduksi menggunakan limbah kelapa dan cangkang sawit yang diolah melalui proses khusus sehingga menghasilkan material lebih ringan, tahan lama, dan mudah dipasang. 

“Kami ingin menghadirkan genting yang tidak hanya kuat dan aman, tetapi juga memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal," kata Kepala Penelitian BRIN, Dr. Suryadi, Kemarin. 

Inovasi ini datang di tengah proyeksi perlambatan pertumbuhan industri sawit pada 2026. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan pertumbuhan hanya 1-2 persen, turun signifikan dibanding 2025 yang mencapai 7,2 persen. Meski demikian, limbah sawit tetap menjadi sumber bahan baku berpotensi untuk berbagai produk inovatif, termasuk genting ringan BRIN.

BRIN menekankan keunggulan genting ini untuk daerah rawan gempa, karena beratnya yang lebih ringan dibanding genting konvensional, sehingga risiko cedera akibat runtuhan dapat diminimalkan. 

Selain itu, produk ini juga lebih ramah lingkungan karena mengurangi volume limbah pertanian yang dibakar atau dibuang begitu saja.

Pemerintah dan industri sawit melihat potensi genting ringan ini sebagai langkah strategis diversifikasi produk berbasis sawit. 

“Kalau kita bisa mengoptimalkan limbah, bukan hanya mengurangi sampah, tapi juga membuka peluang pasar baru, termasuk genting aman untuk daerah gempa,” kata Hadi Sugeng Wahyudiono, Sekretaris Jenderal GAPKI.

Genting ringan BRIN dijadwalkan mulai uji coba produksi skala besar pada pertengahan 2026, dengan target distribusi awal ke wilayah rawan gempa di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. 

Para peneliti optimis, inovasi ini dapat menjadi solusi konkret untuk keselamatan masyarakat sekaligus meningkatkan nilai tambah limbah sawit dan kelapa di Indonesia.***