https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Sawit Rentan terhadap Perubahan Iklim, Kementan Perkuat Mitigasi

Sawit Rentan terhadap Perubahan Iklim, Kementan Perkuat Mitigasi

Upaya mitigasi untuk menekan dampak perubahan iklim. Foto: ditjenbun.pertanian.go.id

Jakarta, kabarsawit.com - Perubahan iklim membuat pola cuaca semakin sulit diprediksi. Hujan deras bisa terjadi dalam waktu singkat, sementara pada hari berikutnya suhu dapat meningkat secara ekstrem.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi subsektor perkebunan yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional.

Tanaman perkebunan seperti kopi, kakao, kelapa sawit, hingga tebu berpotensi terdampak apabila perubahan cuaca tidak diantisipasi dengan baik.

Karena itu, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan terus memperkuat langkah mitigasi agar sub sektor perkebunan Indonesia tetap tangguh menghadapi perubahan iklim.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah terus mendorong berbagai strategi adaptasi agar produktivitas komoditas perkebunan tetap terjaga.

“Pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi untuk melindungi tanaman perkebunan dari dampak perubahan iklim melalui penerapan budidaya adaptif, penggunaan benih unggul, serta pendampingan kepada pekebun agar produktivitas tetap terjaga,” ujar Mentan Amran.

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai program, mulai dari penggunaan benih unggul yang lebih tahan terhadap kondisi cuaca, penerapan konservasi tanah dan air, hingga pengelolaan kebun yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Pendampingan kepada pekebun juga terus diperkuat, terutama untuk mengantisipasi munculnya hama dan penyakit tanaman yang kerap meningkat akibat perubahan iklim.

Plt Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menegaskan bahwa pengelolaan kebun yang adaptif menjadi kunci untuk menjaga ketahanan sub sektor perkebunan di tengah dinamika iklim.

“Pengelolaan kebun yang adaptif, konservasi tanah dan air, serta pemanfaatan informasi iklim menjadi langkah penting agar perkebunan Indonesia tetap tangguh menghadapi cuaca yang semakin dinamis sekaligus membuka peluang inovasi bagi generasi muda di subsektor perkebunan,” kata Roni dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat (13/3).

Menurutnya, teknologi juga berperan penting dalam mendukung adaptasi sub sektor perkebunan. Saat ini, berbagai informasi terkait cuaca, teknik budidaya, hingga pengelolaan kebun dapat diakses dengan lebih cepat sehingga membantu pekebun dalam mengambil keputusan yang tepat di lapangan.

“Kami berkomitmen untuk hadir mendampingi pekebun di setiap jengkal lahan. Melalui transformasi digital dan penguatan kelembagaan, kita bangun ekosistem perkebunan yang tidak hanya tahan banting terhadap perubahan iklim, tapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara mandiri dan berkelanjutan,” tambahnya.

Berbagai program pembinaan juga terus dilakukan oleh Ditjen Perkebunan untuk memperkuat kesiapsiagaan pekebun menghadapi dampak perubahan iklim.

Salah satunya melalui pembangunan demplot mitigasi dan adaptasi iklim, yaitu kebun percontohan yang menerapkan teknik budidaya hemat air dan ramah lingkungan.

Di lokasi ini, pekebun belajar mengelola kebun saat musim kemarau, menggunakan pestisida alami, hingga mengolah limbah pertanian menjadi kompos melalui prinsip ekonomi sirkular.

Selain itu, pemerintah juga mendorong program Pembukaan Lahan Tanpa Membakar (PLTB) sebagai bagian dari upaya mewujudkan pertanian zero burning yang lebih ramah lingkungan.

Pengelolaan tata air di lahan gambut juga diperkuat melalui pembangunan sekat kanal agar lahan tetap lembap dan produktif meskipun menghadapi musim kering.

Kesiapsiagaan masyarakat turut diperkuat melalui pembentukan Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Karlabun) serta Kelompok Tani Peduli Api yang berperan aktif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan di wilayah perkebunan.

Di sisi lain, pemerintah juga mendorong pengembangan desa pertanian organik untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, menjaga kesuburan tanah, serta menghasilkan komoditas perkebunan yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan.

Dalam praktik pengelolaan kebun, pekebun juga diimbau memperhatikan sejumlah langkah penting, seperti memanfaatkan limbah tanaman menjadi pupuk organik, memberikan pupuk sesuai dosis, menjaga tata kelola air, serta rutin memantau kondisi tanaman dan informasi cuaca.

Teknologi konservasi air seperti rorak dan biopori juga dianjurkan untuk menyimpan cadangan air tanah saat musim hujan sebagai persiapan menghadapi musim kemarau.

Selain itu, penerapan pola tanam tumpang sari dan tanaman penutup tanah dinilai efektif menjaga kelembapan lahan dan meningkatkan ketahanan kebun terhadap perubahan iklim.

Sebaliknya, praktik pembukaan lahan dengan cara membakar harus ditinggalkan karena berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan. Pekebun juga diingatkan untuk tidak memperluas lahan ke kawasan lindung atau area moratorium, serta mengurangi penggunaan bahan kimia berlebih yang dapat merusak ekosistem kebun.

Salah seorang pekebun mengaku berbagai pendampingan tersebut membantu pekebun dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

“Bagi kami, kebun adalah masa depan. Dengan pola tanam yang adaptif dan ramah lingkungan, kami siap menjaga perkebunan Indonesia tetap tangguh menghadapi tantangan iklim dunia.”

lebih lanjut Roni mengatakan, dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap perkebunan Indonesia tidak hanya mampu bertahan menghadapi perubahan iklim, tetapi juga terus berkembang sebagai subsektor masa depan yang inovatif dan berkelanjutan.

“Menjaga kebun hari ini berarti menjaga pangan, ekonomi, dan masa depan Indonesia. Perkebunan tangguh, Indonesia kuat,” harap Roni.***