https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Gulma Sawit Bisa Jadi Pakan Ternak

Gulma Sawit Bisa Jadi Pakan Ternak

Rio Arif mencari tanaman gulma di perkebunan PT MPM.

Bengkulu, kabarsawit.com - Gulma daun lebar yang banyak tumbuh di area perkebunan PT Mitra Puding Mas (MPM) di Desa Seblat, Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara, menjadi incaran peternak. 

Salah satunya, Rio Arif. Warga Desa Air Rami, Kabupaten Mukomuko ini setiap hari rutin mencari tanaman itu yang banyak tumbuh di area perkebunan untuk pakan sapi. 

"Hampir setiap sore bareng kawan-kawan merumput di MPM. Kadang kalau lagi malas, ya sekaligus pakai mobil buat merumput gulma untuk stok dua tiga hari," kata Rami saat bincang-bincang dengan kabarsawit.com, kemarin. 

MPM menjadi pilihan utama karena jarak lebih dekat dan berbatasan dengan Desa Air Remi. Banyak peternak yang menjadikan MPM sebagai ladang pakan.

Rio mengaku beruntung diizinkan merumput di perkebunan MPM. Sebab jika tidak, butuh jarak hingga 25 kilometer untuk bisa merumput di tempat lain.

Lebih lagi, lanjutnya, rumput steno dan aneka kacang-kacangan cukup memenuhi kriteria seperti tahan naungan, tumbuh cepat, regrowth cepat serta kualitas nutrisi yang baik.

"Ternak suka. Jadi langganan ke sana. Hitung-hitung bantu perkebunan membersihkan lahan mereka juga," kata Rio.

 

Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan, Ricky Gunarwan mengaku, gulma merupakan salah satu kendala dalam peningkatan produktivitas tanaman kelapa sawit. 

Kehadiran gulma di perkebunan kelapa sawit dapat mengakibatkan penurunan kuantitas dan kualitas produksi TBS. 

"Gulma bisa menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan tanaman, peningkatan serangan hama dan penyakit, gangguan tata guna air dan secara umum akan meningkatkan biaya usaha tani," kata dia.

"Gulma juga berdampak menurunkan produksi TBS sebesar 20 persen jika tidak dibersihkan," imbuhnya.

Pemerintah sangat menganjurkan pengendalian gulma dilakukan dengan integrasi sawit-sapi. Bila pun tidak, dengan adanya peternak yang merumput tanaman gulma jadi pilihan kedua.

Karena itu, Ricky mengingatkan konsep pengendalian populasi gulma dengan menerapkan pengendalian kimiawi dijadikan pilihan terakhir.

"Jadi jika ada peternak yang masuk ke kebun, biarkan saja. Siapa tahu mereka dapat membantu membersihkan gulma dengan merumput di area perkebunan," ujar Ricky.