https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Oren

Oren

Oren menengok salah satu tanaman sawitnya di Desa Amboyo Utara Kecamatan Ngabang. Tanaman hasil program PSR itu sudah menghasilkan hampir 2 ton per bulan. foto. aziz

Dia jeli menengok peluang. Tapi tak bisa menikmati hasil panen lantaran didera banyak masalah. 

Landak, kabarsawit.com - Walau tidak terlalu besar, Oren sudah punya rumah di pinggir jalan lintas, di Dusun Tareng Desa Amboyo Utara Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

Di samping rumah yang mirip rumah toko (ruko) itu ada pula warung lesehan yang di bawahnya kolam ikan. Di situlah lelaki 63 ini menghabiskan hari tuanya bersama sang istri setelah lima tahun lalu pensiun dari PT. Perkebunan Nusantara XIII.

Adapun rumah dan warung lesehan itu kata ayah dua anak ini, didapat dari hasil kebun kelapa sawit yang dia beli pada 1994 silam dari warga plasma yang tak mau lagi merawat kebunnya. “Waktu itu saya beli hanya Rp2,5 juta satu kapling. Umur tanaman sudah sekitar 14-15 tahun,” katanya saat ngobrol bersama elaeis magazine (group kabarsawit.com) di teras rumahnya itu.

Obrolan itu semakin asyik saat istri lelaki ini datang menyuguhkan minuman hangat di tengah hujan yang kebetulan sedang mengguyur kampung itu.    
  
Oren tergerak membeli kaplingan itu lantaran saat itu orang-orang plasma dia tengok sudah berduit dari sawit. Satu kapling hasilnya kadang dua ton. “Itulah makanya, saban saya punya cukup uang, saya beli kaplingan orang yang kebetulan mau jual,” ujar lelaki ini. 

Sebelumnya ada lima kapling kebun kelapa sawit milik pensiunan golongan 2B ini. Semuanya tidak satu hamparan. Dua kapling berada di jalan lintas itu, sisanya di Plasma 6. “Daerah yang saya tempati ini namanya Plasma 2. Semuanya saya kelola sendiri,” katanya.  

Tapi dalam perjalanannya, dua kapling di Plasma 6 tadi dia jual. Tidak terlalu dijelaskan Oren kenapa kaplingan itu sampai leong. Yang dia keluhkan justru bahwa belakangan harga TBS di kampungnya tidak pernah lagi stabil, makanya hasil kebun hanya cukup makan.

Pada 24 Juli 2019 lalu, kaplingan yang di pinggir jalan lintas itu dia tanam ulang. Duitnya berasal dari hibah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Lantaran telaten dia urus, umur 20 bulan tanaman itu sudah buah pasir.

Sembilan bulan kemudian Berat Janjangan Rata-rata (BJR) nya sudah 6-7 kilogram. “Yang satu kapling lagi tidak saya ikutkan program PSR. Biar ada untuk biaya hidup sehari-hari meski umur tanaman itu sudah 35 tahun,” lelaki ini tersenyum kecut. 

Sama seperti apa yang dikeluhkan oleh petani lain di kampung itu, harga TBS yang tergolong rendah. Cuma Rp1500 per kilogram. Alasan pemilik pabrik membeli dengan harga segitu lantaran TBS petani masih kecil-kecil. 
 
“Pupuk juga menjadi masalah lantaran harganya sangat mahal. Akses jalan dari kebun juga ikut jadi masalah. Namun yang paling penting itu justru pabrik. Kalau saja di Ngabang ini ada pabrik milik petani, kami akan sangat senang,” mata lelaki ini menatap jauh, menembus rintik hujan yang sudah mulai mereda.