https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Cuaca Panas Ekstrem, Ini Pesan BMKG untuk Petani Sawit

Cuaca Panas Ekstrem, Ini Pesan BMKG untuk Petani Sawit

Kepala BMKG Bengkulu, Klaus JA Damanik. Foto: Dirgantara

Bengkulu, kabarsawit.com - Kondisi cuaca panas ekstrim yang terjadi di Provinsi Bengkulu belakangan ini membuat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bengkulu mewanti-wanti petani sawit di daerah.

Kepala BMKG Bengkulu, Klaus JA Damanik mengatakan, naiknya suhu panas hingga 36 derajat Celcius seperti saat ini akan berdampak langsung kepada tanaman kelapa sawit khususnya pada aktivitas agronomis.

"Untuk dampak secara langsung khususnya pada pembibitan dan beberapa aktivitas perawatan lainnya," kata Klaus kepada kabarsawit.com, kemarin.

Klaus menjelaskan, bahwa suhu rata-rata yang terjadi mencapai 34-36 derajat Celsius, secara teori masih dapat ditolelir oleh kelapa sawit, hanya saja perlu dilakukan antisipasi agronomis.

Antisipasi tersebut mencakup tiga hal ini, pertama supaya jangan dulu memupuk, kedua menghindari pemakaian herbisida untuk pengendalian gulma, dan ketiga mengurangi aktivitas pembuangan pelepah pada bulan-bulan cuaca ekstrim seperti saat ini.

“Suhu ekstrim antara 34-36 derajat celsius untuk tanaman hortikultura dan tanaman pangan mungkin sudah berada pada titik berbahaya dan bahkan mematikan tanaman, baik secara morfologis ataupun secara fisiologis, tapi untuk tanaman kelapa sawit ketinggian suhu tersebut masih bisa ditolelir,” jelas Klaus.

Dengan demikian, konsep pemupukan harus memperhatikan 5T yakni tepat dosis, tepat waktu, tepat kualitas, tepat cara dan tepat jenis. "Nah kaitannya dengan kondisi ekstrim saat ini adalah terkait ke tepat waktu," kata dia.

Kalus mengungkapkan, memupuk di waktu cuaca panas justru berisiko tinggi terhadap tanaman, karena panas akibat reaksi pupuk tidak dapat diimbangi oleh kelembapan tanah dan hal ini akan merusak morfologi akar secara permanen.

 

Jadi pupuk yang diberikan ke tanah hanya bisa bereaksi dan diserap oleh akar jika kandungan air tanah di area top soil dalam kondisi lembab. Jika tidak dalam kondisi ini, maka pemupukan akan mubazir dan justru membahayakan akar sawit, terutama akar sawit biasanya berada di permukaan tanah. 

“Lebih disarankan untuk penggunaan pupuk organik karena pupuk organik akan membantu melembapkan lapisan top soil tanah,” kata Klaus.

Meski begitu, tanaman kelapa sawit merupakan tanaman kelompok Fisiologis C4 yang mempunyai kemampuan daya adaptasi dengan lingkungan panas dan suasana kering, tanaman ini juga dominan di intensitas cahaya matahari langsung dengan suhu terbaik antara 24-28 derajat Celsius. 

Secara teori bahwa semakin naiknya intensitas sinar matahari dan suhu maka laju fotosintesis tanaman ini akan semakin meningkat pula. 

“Dengan alasan inilah petani sawit jangan terlampau kuatir,” tutupnya.