Rusia Makin Kepincut dengan Produk Sawit Indonesia, Begini Kata GAPKI
Ilustrasi - seorang pekerja mengawasi pengisian tangki minyak sawit mentah atau crude palm oil. Foto: ANTARA
Jakarta, kabarsawit.com - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyampaikan, ekspor produk sawit tiga tahun terakhir ke Rusia terus meningkat. Malah berpeluang mencapai 1 juta ton.
Menurut Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, peluang itu bukan tanpa tantangan yang menghadang. Ada tantangan besar yang perlu dicermati pemerintah Indonesia agar bisa menembus pasar Rusia lebih maksimal.
Pertama, kata Eddy yakni sistem transaksi pembayaran. Rusia saat ini tidak bisa menggunakan fasilitas Letter of Credit (L/C) untuk bertransaksi. Ini dampak dari terus memanasnya perang Rusia-Ukraina.
"Jadi memang perlu solusi dari pihak perbankan agar mekanisme pembayaran ini selesai," kata Eddy kepada kabarsawit.com, kemarin.
Lalu tantangan berikutnya, Rusia tidak memiliki pelabuhan ekspor-impor. Jika dipaksakan, maka biaya untuk pengiriman CPO akan semakin tinggi. Bahkan tidak kecil kemungkinan terganggu.
Terkahir, yakni berita negatif terkait kelapa sawit masih terus menjadi momok bagi masyarakat Rusia. Dimana penduduk Rusia beranggapan bahwa minyak kelapa sawit tidak sehat. Padahal kata Eddy, minyak sawit bebas trans fat dan mengandung vitamin A serta E yang tinggi.
"Produk sawit di Rusia selama ini digunakan oleh industri non-food seperti farmasi dan kosmetik. Karena dinilai tidak sehat," jelasnya
Untuk diketahui, ekspor produk sawit tahun 2022 ke Rusia mencapai 668.340 ton. Sementara tahun 2021, ekspor ke 695.570 ton. Jumlah itu terus meningkat jika dibandingkan tahun 2019 dan 2020 yang hanya 660.290 ton dan 684.470 ton.








