Program Siska Dongkrak Perekonomian Petani Sawit
Ilustrasi - ternak sapi di perkebunan kelapa sawit. Dok.DisbunnakKalbar
Pekanbaru, kabarsawit.com - Gabungan Pelaku dan Pemerhati Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (Gapensiska) melakukan kerja sama dengan sejumlah asosiasi petani, perusahaan dan petani kelapa sawit. Salah satunya Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR (Aspek-PIR).
Dimana tujuan kerja sama ini untuk meningkatkan ketahanan pangan khususnya kebutuhan daging sapi dalam negeri.
Kerja sama tersebut dikukuhkan dengan penandatanganan MoU dalam gelaran Training Of Trainer, Fasilitator Sistem Integrasi Sapi -Kelapa Sawit (Siska), Selasa (20/6)
Ketua Umum Aspek-PIR, Setiyono mengatakan program Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (Siska) merupakan program yang sangat bagus bagi petani kelapa sawit. Sebab akan memberikan banyak keuntungan baik itu terhadap kebun kelapa sawitnya atau pun perekonomiannya.
"Ada nilai tambah dalam program ini, selain kepada kebun kelapa sawit tentu juga peningkatan ekonomi petani itu sendiri," kata dia, Rabu (21/6).
Keuntungan tersebut di antaranya yakni petani dapat mengurangi kecenderungan bergantung pada pupuk kimia yang kini harganya melambung tinggi. Sebab ada limbah dari ternak sapi yang menjadi pengganti pupuk kimia yakni pupuk organik. Artinya pemeliharaan kebun kelapa sawit masih cukup terjaga.
Kemudian dari sisi ternak, petani tidak perlu sulit untuk menyediakan kandang atau pakan. Sebab sudah ada semua di perkebunan kelapa sawit itu sendiri.
"Paling tinggal memberikan pakan selingan," kata dia.
Dari nilai ekonomisnya petani akan mendapat untung jika ternak berkembang dan dijajakan di pasar ternak.
Dengan demikian program tersebut dinilai Setiyono saling menguntungkan. Meski begitu petani kelapa sawit saat ini memang butuh pembinaan dan pendampingan. Sehingga program berjalan secara baik.
"Potensi di Riau sangat besar, kebun Aspek-PIR saja 134 ribu hektare lain KKPA. Nah, jika dikembangkan dengan bibit ternak 1 atau 2 ekor sapi saja per hektar, jumlahnya sudah ratusan ekor. Tentu kebutuhan ternak Riau sendiri dapat terpenuhi. Jika program ini berhasil 50% saja, maka sudah sangat luar biasa dampaknya," ujarnya.
Sementara Ketua Umum Gapensiska, Joko Iriantono mengatakan Gapensiska merupakan wadah para pelaku di perkebunan kelapa sawit yang integrasi dengan sapi. Dimana pihaknya terbentuk sekitar setahun lalu.
"Kita terbentuk seiring dengan keprihatinan kita terhadap ketahanan pangan. Khususnya kebutuhan daging sapi yang justru harus didatangkan dari luar negeri," kata Joko
Dengan wawasan yang sudah 30 tahun berkecimpung di dunia peternakan, Joko lantas menggagas Gapensiska dan mendapat dukungan dari perusahaan di Australia.
"Kita melihat import sapi kita semakin tinggi, bahkan angkanya sudah cukup membuat khawatir. Disamping itu potensi berbudidaya sampai di Indonesia justru sangat besar. Terutama di perkebunan kelapa sawit," ujarnya.
Joko juga menjelaskan alasan kenapa melakukan di perkebunan sawit karena peternakan merupakan sektor anak tiri, dimana peternakan tidak memiliki lahan dan sebagainya. Sementara luas perkebunan kelapa sawit di Nusantara justru menjadi terbesar di dunia.
Kelapa sawit sendiri kini tengah terbentur dengan sejumlah persoalan. Salah satunya yakni pupuk. Integrasi sapi menjadi jawaban karena limbah kotoran sapi dapat menjadi pupuk organik. Begitu sebaliknya, perkebunan kelapa sawit menjadi tempat bernaung sapi yang juga menyediakan pakan bagi sapi tersebut.
"Sawit menjadi sumber devisa Negara, sapi malah menguras devisa itu karena harus import. Nah ini salah satu target yang harus di capai, yakni menekan angka import," paparnya.
Selain itu, nilai ekonomi integrasi sapi juga cukup menggiurkan bagi petani kelapa sawit. Selain dapat tetap menikmati hasil kebunnya, petani juga berpotensi mendapat cuan dari sapi tersebut.








