https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Dunia Pendidikan Tinggi Sawit Kini Ditantang untuk Lebih Membumi

Dunia Pendidikan Tinggi Sawit Kini Ditantang untuk Lebih Membumi

Workshop pengembangan kurikulum pendidikan tinggi sawit. Foto: Ist

Jakarta, kabarsawit.com – Dunia pendidikan tinggi sawit sedang didorong keluar dari zona nyaman. Tak lagi cukup kuat di teori, kampus kini ditantang untuk lebih membumi, lebih dekat ke kebun dan pabrik. 

Itulah benang merah Workshop Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Sawit Berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Yogyakarta.

Dalam forum tersebut, empat klaster kompetensi ditetapkan sebagai fondasi utama penyusunan kurikulum sawit. 

Keempatnya meliputi klaster kebun atau agronomi, pabrik atau pengolahan, manajemen, serta teknologi dan informasi. Pembagian ini bukan sekadar label, melainkan peta jalan agar kurikulum lebih terarah dan selaras dengan kebutuhan nyata industri.

Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, menegaskan bahwa pendekatan berbasis kompetensi menjadi kunci dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) sawit yang siap kerja. Menurutnya, kesenjangan antara dunia kampus dan dunia usaha tak boleh terus dibiarkan.

“Industri butuh lulusan yang siap pakai. Karena itu, sinergi antara perguruan tinggi dan industri menjadi sangat penting,” ujar Alfansyah, Senin (2/2).

Empat klaster kompetensi ini dirancang untuk memudahkan perguruan tinggi memetakan unit-unit kompetensi ke dalam mata kuliah, sekaligus menyusun capaian pembelajaran lulusan yang lebih realistis. Dengan kerangka ini, kurikulum diharapkan tak lagi terlalu abstrak, melainkan aplikatif dan kontekstual.

Pada klaster kebun atau agronomi, fokus diarahkan pada penguasaan teknis budidaya, pengelolaan tanaman, hingga prinsip keberlanjutan. 

Klaster pabrik atau pengolahan menitikberatkan pada pemahaman proses pascapanen, efisiensi produksi, serta pengendalian mutu. 

Sementara itu, klaster manajemen membekali mahasiswa dengan kemampuan mengelola usaha perkebunan secara profesional. Adapun klaster teknologi dan informasi disiapkan untuk menjawab tantangan digitalisasi industri sawit yang kian cepat.

Workshop ini diikuti oleh 86 peserta yang berasal dari 37 perguruan tinggi di berbagai wilayah Indonesia. Pesertanya beragam, mulai dari akademisi, praktisi industri, asosiasi pendidikan, hingga perwakilan pemangku kebijakan. 

BPDP menggandeng Asosiasi Lembaga Pendidikan Perkebunan Indonesia (ALPENBUN) dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Sejumlah narasumber dari industri dan institusi pendidikan turut hadir berbagi pengalaman dan praktik baik. Di antaranya perwakilan dari PT Bumitama Gunajaya Agro, PT Cargill Indonesia, Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Politeknik LPP, serta Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi. Berbagai sudut pandang ini memperkaya diskusi, sekaligus membuka mata kampus tentang kebutuhan riil di lapangan.

BPDP menargetkan hasil workshop ini berupa kerangka kurikulum berbasis SKKNI yang terstandar dan relevan. Kerangka tersebut diharapkan bisa diadopsi secara luas oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi terkait kelapa sawit, sehingga kualitas lulusan lebih seragam dan mudah diserap industri.

“Tujuan akhirnya jelas. Kita ingin lulusan yang kompeten, tersertifikasi, dan mampu beradaptasi dengan dinamika industri perkebunan,” kata Alfansyah.

Melalui penguatan kurikulum berbasis empat klaster kompetensi ini, kampus didorong untuk benar-benar menjadi bagian dari ekosistem industri sawit. Bukan lagi berjalan di jalur sendiri, tetapi melangkah seirama, menyiapkan SDM unggul yang siap bekerja, siap berinovasi, dan siap menjawab tantangan sektor perkebunan ke depan.***