https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Nest Box, Cara Alami Menghadapi Serangan Tikus di Kebun Sawit

Nest Box, Cara Alami Menghadapi Serangan Tikus di Kebun Sawit

Jakarta, kabarsawit.com - Petani kelapa sawit kini punya cara alami untuk menghadapi serangan tikus yang bisa mengganggu produktivitas kebun. Bukan selalu mengandalkan racun, pengendalian hama bisa dilakukan dengan memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami.

Burung hantu jenis Tyto Alba atau serak jawa bahkan bisa menjadi “satpam” kebun yang aktif berburu ketika petani sedang terlelap. Dalam praktik di perkebunan kelapa sawit, satu ekor Tyto alba disebut mampu memangsa sekitar tiga hingga lima ekor tikus dalam satu malam.

Cara ini dilakukan dengan menyediakan rumah burung hantu atau nest box di area perkebunan. Setelah beradaptasi, burung hantu dapat membantu memangsa tikus yang berkeliaran di sekitar tanaman sawit.

Tikus sendiri bukan hama yang bisa dianggap sepele. Hewan pengerat ini dapat menyerang tanaman sejak fase awal hingga produksi. Pada tanaman kelapa sawit, tikus bisa memakan buah dan merusak tandan yang sedang berkembang sehingga berpotensi menekan hasil panen.

Data yang dikutip Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan serangan tikus pada kelapa sawit terjadi berulang sepanjang 2016-2021.

Dalam kondisi tertentu, populasi tikus bahkan bisa sangat tinggi. Populasi tikus di kebun sawit disebut dapat mencapai 537 ekor per hektare. Angka tersebut cukup besar jika dibandingkan dengan rata-rata sekitar 130 pohon kelapa sawit dalam satu hektare.

Penelitian juga mencatat seekor tikus dapat memakan buah kelapa sawit sekitar 5,5 hingga 13,6 gram per hari.

Selama ini, pengendalian tikus secara konvensional banyak dilakukan menggunakan rodentisida atau racun tikus. Namun, penggunaan bahan tersebut memiliki risiko terhadap organisme non-target serta lingkungan apabila tidak dilakukan secara tepat.

Karena itu, pemanfaatan predator alami seperti Tyto alba menjadi salah satu pilihan dalam konsep Integrated Pest Management (IPM) atau pengendalian hama terpadu.

Konsep IPM tidak semata-mata membasmi hama, tetapi menjaga populasi hama agar tetap berada di bawah tingkat yang menimbulkan kerugian ekonomi. 

Caranya bisa melalui pemantauan, predator alami, perangkap, agen biologis hingga penggunaan pestisida secara lebih selektif.

Di perkebunan Asian Agri, misalnya, satu nest box ditempatkan untuk sekitar 25 hektare lahan.
Namun, memasang nest box bukan berarti petani bisa langsung meninggalkan kebunnya. 

Peran manusia tetap dibutuhkan, terutama pada tahap awal. Petani perlu menyediakan tempat bersarang, melakukan pemantauan dan memastikan burung hantu bisa beradaptasi dengan lingkungan perkebunan.

Setelah mampu beradaptasi, burung hantu dapat berburu secara mandiri dan membantu menjaga keseimbangan populasi tikus.

Pemanfaatan predator alami juga dinilai punya keuntungan dari sisi ekonomi. Ketika populasi tikus dapat ditekan, potensi kerusakan tanaman dan kehilangan hasil bisa dikurangi.

Di sisi lain, ketergantungan terhadap input kimia untuk mengendalikan hama juga berpotensi berkurang.

Studi yang dikutip University of California Agriculture and Natural Resources (UCANR) memperkirakan pengendalian menggunakan barn owl membutuhkan biaya sekitar US$0,34 atau sekitar Rp6.000 untuk setiap hewan pengerat yang dikendalikan, dengan asumsi kurs US$1 sebesar Rp17.700.
i
Sebagai pembanding, metode perangkap atau trapping terhadap pocket gopher diperkirakan membutuhkan sekitar US$8,11 atau Rp143.500 per ekor

Selain burung hantu, pengendalian biologis di perkebunan juga dapat dilakukan dengan metode lain, seperti menanam tanaman penghasil nektar dan memanfaatkan jamur Metarhizium anisopliae.

Bagi petani sawit, pendekatan ini menunjukkan bahwa menjaga produktivitas kebun tak selalu harus identik dengan penggunaan pestisida. 

Dengan menyediakan habitat bagi predator alami, kebun bisa memiliki “satpam” yang bekerja pada malam hari saat tikus justru aktif mencari makan.

Pada akhirnya, pemanfaatan Tyto alba bukan sekadar soal memburu tikus. Cara tersebut menjadi bagian dari upaya membangun perkebunan sawit yang lebih efisien, ramah lingkungan dan berkelanjutan.***