Positif, Harga CPO Sepanjang Pekan Pertama Agustus 2026
Ilustrasi ekspor CPO. Foto: swa.co.id
Jakarta, kabarsawit.com – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih mampu mencatatkan kinerja positif sepanjang pekan pertama Agustus 2026. Kontrak CPO acuan di Bursa Malaysia Derivatives naik 0,73% dalam sepekan, meski pada perdagangan terakhir justru ditutup melemah.
Kontrak CPO untuk pengiriman Oktober pada Jumat (7/8/2026) turun 0,19% ke level 4.677 ringgit Malaysia per ton. Namun, pelemahan harian tersebut belum mampu menghapus penguatan yang terjadi sepanjang pekan.
Kinerja mingguan ini menjadi catatan positif bagi pasar sawit. CPO tercatat membukukan kenaikan mingguan untuk keempat kalinya dalam lima pekan terakhir.
Pergerakan tersebut menunjukkan harga CPO masih memiliki daya tahan meski pasar menghadapi tekanan dari sisi pasokan dan permintaan ekspor.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah potensi peningkatan persediaan minyak sawit Malaysia.
Kepala Riset Komoditas Sunvin Group Anilkumar Bagani mengatakan harga CPO berjangka masih menghadapi tekanan akibat perkiraan kenaikan stok sawit Malaysia dan lemahnya penjualan ekspor untuk pengiriman mendatang.
Survei Reuters memperkirakan persediaan minyak sawit Malaysia dapat meningkat ke level tertinggi dalam lima bulan pada Juli 2026. Kondisi tersebut terjadi ketika pertumbuhan produksi diperkirakan lebih cepat dibandingkan permintaan.
Data resmi menjadi penting untuk mengonfirmasi kondisi tersebut. Malaysian Palm Oil Board (MPOB) dijadwalkan merilis data permintaan dan pasokan minyak sawit Malaysia untuk Juli pada Senin (10/8).
Pada waktu yang sama, perusahaan survei kargo juga dijadwalkan mengeluarkan estimasi ekspor sawit Malaysia untuk periode 1-10 Agustus.
Kedua data tersebut akan menjadi perhatian pelaku pasar untuk membaca keseimbangan antara produksi, stok, dan permintaan ekspor.
Di tengah tekanan pasokan, CPO masih mendapat dukungan dari penguatan harga minyak mentah dunia.
Harga minyak mentah menguat seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap akses kapal melalui Selat Hormuz. Iran dan Oman mengusulkan larangan bagi kapal yang dianggap bermusuhan untuk melintasi selat tersebut serta pengenaan denda bagi kapal yang melanggar aturan yang diusulkan.
Kenaikan harga minyak mentah dapat memberikan sentimen positif bagi CPO. Sebagai salah satu bahan baku biodiesel, CPO menjadi relatif lebih menarik ketika harga bahan bakar fosil meningkat.
Pergerakan minyak nabati lain juga menjadi perhatian. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian naik 0,21%, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama turun 0,39%.
Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) menguat 0,5%.
CPO dan minyak nabati pesaing saling berebut pangsa pasar global sehingga pergerakan harga komoditas tersebut dapat memengaruhi daya saing minyak sawit.
Dari sisi valuta, ringgit Malaysia terhadap dolar AS relatif stabil. Kondisi ini membuat CPO sedikit lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Dengan kenaikan 0,73% sepanjang pekan, pasar CPO masih menunjukkan sinyal positif. Namun, arah harga berikutnya akan sangat dipengaruhi data stok dan ekspor Malaysia serta perkembangan harga minyak mentah dan minyak nabati pesaing.***








