https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Diperkenalkan SUWIIT, Inovasi yang Dikembangkan Mahasiswa Undip

Diperkenalkan SUWIIT, Inovasi yang Dikembangkan Mahasiswa Undip

Semarang, kabarsawit.com - Di tengah tumpukan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang selama ini lebih banyak dipandang sebagai limbah, tiga mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) melihat sesuatu yang berbeda.

Bagi mereka, TKKS bukan sekadar sisa industri. Limbah tersebut justru bisa menjadi bahan baku pakan ternak sekaligus pintu masuk teknologi digital untuk membantu peternak.

Dari gagasan itu lahirlah SUWIIT (Smart Livestock Integrated Technology), inovasi yang dikembangkan Luis Ibanez Sitinjak, Kholis Na’imah, dan Irgy Khoiroel Al Fahrezi, mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Sekolah Vokasi UNDIP.

Ide tersebut membawa mereka meraih Gold Medal Kategori Business Plan dalam Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) XI 2026 di Universitas Negeri Surabaya pada 2–4 Agustus 2026.
Gagasan SUWIIT tidak muncul begitu saja. Tim melihat dua persoalan yang saling berdekatan di kawasan perkebunan sawit, terutama di Sumatera.

Di satu sisi, industri sawit menghasilkan biomassa TKKS yang belum dimanfaatkan secara optimal. Di sisi lain, peternak masih menghadapi tingginya biaya pakan.

Tim kemudian mencoba mempertemukan kedua persoalan tersebut. TKKS diolah melalui proses fermentasi dengan tambahan probiotik, mineral, dan imunostimulan alami.

Hasilnya dirancang menjadi pakan ternak nutrasetikal yang tidak hanya menyediakan nutrisi, tetapi juga ditujukan untuk membantu menjaga kesehatan pencernaan dan daya tahan tubuh ternak.

Dengan cara itu, sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah dicoba diubah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Menariknya, SUWIIT tidak berhenti pada urusan pakan. Tim juga membangun Smart Livestock Assistance, sebuah platform digital yang dirancang sebagai teman bagi peternak dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Melalui platform tersebut, peternak dapat memantau kondisi kesehatan hewan, berkonsultasi dengan dokter hewan, hingga memperoleh rekomendasi perawatan otomatis berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Ada pula fitur edukasi interaktif dan marketplace kebutuhan ternak. Konsep tersebut lahir dari pemahaman tim bahwa persoalan peternak tidak selalu berhenti pada mahalnya pakan. 

Akses terhadap informasi, dokter hewan, edukasi, pendampingan, dan kebutuhan peternakan juga menjadi tantangan.

Berdasarkan perhitungan awal, tim memproyeksikan SUWIIT dapat menekan biaya pakan sekitar 20–40 persen.

Produktivitas ternak juga diproyeksikan meningkat 20–40 persen, sedangkan angka kematian ternak diperkirakan dapat ditekan sekitar 10–20 persen

Angka tersebut masih berupa proyeksi awal dalam model bisnis SUWIIT, sehingga membutuhkan pengujian dan implementasi lebih lanjut.

Pengembangan inovasi mendapat pendampingan dari Dr. Ir. Fahmi Arifan, S.T., M.Eng., M.M., IPM., ASEAN Eng.

Ketua Program Studi TRKI Sekolah Vokasi UNDIP, Dr. Mohamad Endy Julianto, menilai capaian tersebut menunjukkan pentingnya memberikan ruang kepada mahasiswa untuk mengembangkan gagasan yang dekat dengan persoalan nyata di masyarakat.

Bagi Kholis Na’imah, salah satu anggota tim, konsep ekonomi sirkular menjadi bagian penting dari SUWIIT.

Limbah, dalam gagasan mereka, tidak harus berakhir sebagai sesuatu yang dibuang. Dengan teknologi yang tepat, limbah masih bisa diolah menjadi sumber daya baru.

Sementara Irgy melihat kebutuhan peternak dari sisi yang lebih luas. Menurutnya, peternak membutuhkan lebih dari sekadar pakan murah.

Karena itu, SUWIIT mencoba menggabungkan pakan, layanan kesehatan, edukasi, informasi, dan pasar dalam satu ekosistem.
Bagi Luis, mengikuti OLIVIA XI 2026 menjadi kesempatan untuk menguji apakah gagasan tersebut benar-benar mampu menjawab persoalan di lapangan, bukan hanya terlihat menarik di atas kertas.

Kemenangan di OLIVIA XI 2026 bukan menjadi garis akhir bagi tim mahasiswa UNDIP.
Mereka justru ingin membawa SUWIIT keluar dari ruang kompetisi dan mengembangkannya menuju tahap komersialisasi serta implementasi di masyarakat.

Dari sebuah persoalan sederhana—limbah sawit dan mahalnya pakan—tiga mahasiswa UNDIP mencoba membangun solusi yang menghubungkan industri sawit, peternakan, dan teknologi AI.

Jika pengembangannya berhasil, TKKS yang selama ini dianggap limbah bukan hanya memiliki kehidupan kedua, tetapi juga berpotensi membantu peternak mendapatkan pakan dan layanan yang lebih terjangkau.***