Pertamina: Implementasi B50 Berpotensi Membantu Menghemat Devisa RI Rp170 Triliun
Ilustrasi B50. Foto: Ist
Jakarta, kabarsawit.com - Pemanfaatan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) untuk bahan bakar nabati dinilai punya peran lebih besar dari sekadar program biodiesel.
Pertamina menyebut implementasi Biosolar B50 berpotensi membantu Indonesia menghemat devisa hingga Rp170 triliun.
B50 merupakan bahan bakar diesel yang memanfaatkan campuran berbasis minyak sawit hingga 50%.
Program ini menjadi salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan penggunaan energi dari sumber daya dalam negeri sekaligus menekan ketergantungan terhadap bahan bakar impor.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan pemanfaatan komoditas dalam negeri menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Menurutnya, semakin besar produksi energi yang berasal dari dalam negeri, maka kebutuhan impor dapat ditekan. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan dampak terhadap penghematan devisa negara.
“Semakin banyak kita produksi dari dalam negeri, semakin sedikit kita impor,” ujar Agung dalam Pertamina Talks Episode 2 bertema “Hobi Jaga Bumi, Eh Jadi Profesi” di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Kamis (27/8).
Ia menegaskan Pertamina terus mendorong agar kebutuhan energi nasional sebanyak mungkin dipenuhi dari sumber daya yang tersedia di Indonesia.
“Sebisa mungkin produksi kita dari dalam negeri untuk ketahanan energi,” katanya.
Dalam pengembangan bahan bakar nabati, sawit memiliki posisi strategis karena CPO digunakan sebagai bahan baku utama biodiesel.
Melalui implementasi B50, porsi pemanfaatan minyak sawit untuk sektor energi semakin besar. Bagi industri sawit, kebijakan tersebut membuka ruang penyerapan CPO di pasar domestik.
Di sisi lain, pemanfaatan CPO sebagai bahan bakar dapat mengurangi kebutuhan Indonesia untuk mendatangkan energi dari luar negeri.
Pertamina memperkirakan program B50 dan pengembangan bioetanol berbasis tebu secara keseluruhan berpotensi menyerap hingga 2,1 juta tenaga kerja di Indonesia.
Dari sisi lingkungan, program tersebut juga diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon sekitar 44 juta ton CO2.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pengembangan energi berbasis komoditas domestik tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan bahan bakar.
Ada pula dampak ekonomi, ketenagakerjaan, pengurangan impor, hingga pengurangan emisi.
Selain sawit, Pertamina juga mengembangkan bioetanol dengan memanfaatkan molases atau tetes tebu sebagai bahan baku.
Bioetanol tersebut digunakan dalam produk Pertamax Green 95 dengan campuran bioetanol 5% atau E5.
Agung menyebut Indonesia memiliki sumber daya alam dan kondisi tanah yang mendukung pengembangan energi berbasis tanaman produksi dalam negeri.
Pemanfaatan tebu dan sawit pun memiliki tujuan yang sejalan, yakni meningkatkan produksi energi domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.
Jika bioetanol menyasar kendaraan berbahan bakar bensin, B50 digunakan untuk kendaraan bermesin diesel. Keduanya menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan sumber daya domestik di sektor energi.
Pertamina juga melihat situasi geopolitik global sebagai salah satu faktor yang membuat ketahanan energi semakin penting.
Gangguan geopolitik dapat memengaruhi harga maupun pasokan minyak dunia.
Karena itu, peningkatan produksi energi dari dalam negeri dinilai menjadi salah satu langkah untuk menjaga ketahanan energi sekaligus melindungi cadangan devisa.
Bagi Indonesia sebagai salah satu produsen sawit terbesar dunia, kebijakan B50 juga memiliki arti strategis bagi industri sawit nasional.
CPO tidak hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi semakin kuat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.
Dengan implementasi B50, sebagian produksi sawit diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar dalam negeri.
Skema ini sekaligus memperkuat keterkaitan antara sektor perkebunan sawit dan ketahanan energi nasional.
Pertamina menilai semakin besar pemanfaatan bahan baku lokal, semakin kecil pula ketergantungan Indonesia terhadap energi impor.
Dengan potensi penghematan devisa hingga Rp170 triliun, B50 bukan lagi sekadar program pencampuran biodiesel.
Bagi Pertamina, pemanfaatan CPO menjadi bagian dari strategi besar untuk menjadikan sumber daya dalam negeri sebagai kekuatan utama ketahanan energi Indonesia.***








