https://www.kabarsawit.com


Copyright Ā© kabarsawit.com
All Right Reserved.

Melalui IOPS Forum 2026, Gulat Manurung Terpilih Jadi Presiden WCOPS

Melalui IOPS Forum 2026, Gulat Manurung Terpilih Jadi Presiden WCOPS

Jakarta, kabarsawit.com – Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Gulat Medali Emas Manurung terpilih sebagai Presiden World Coalition of Oil Palm Smallholders (WCOPS).

Ia mendapat mandat dari 12 asosiasi petani sawit yang berasal dari tujuh negara.
Gulat terpilih dalam International Oil Palm Smallholders (IOPS) Forum 2026 yang digelar di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, Kamis (27/8). 

Pemilihan tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan WCOPS sebagai wadah untuk memperkuat suara petani sawit di tingkat global.

Mandat kepada Gulat diberikan oleh asosiasi petani sawit dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Nigeria, Ghana, Honduras, dan Pantai Gading.

Dengan posisi tersebut, Gulat akan membawa kepentingan petani sawit dari berbagai negara dalam menghadapi sejumlah persoalan yang berkembang di industri sawit dunia.

Gulat mengatakan, jabatan sebagai Presiden WCOPS bukan sekadar posisi organisasi. Menurutnya, mandat tersebut merupakan tanggung jawab untuk menyatukan petani sawit dari berbagai negara.

“Penugasan saya sebagai President WCOPS ini menjadi monumen untuk mempersatukan petani sawit dunia, untuk saling mendukung dengan korporasi sawit,” kata Gulat.

Ia berharap terbentuknya koalisi tersebut bisa mendorong industri sawit yang lebih inklusif. 
Menurut Gulat, manfaat industri sawit harus dapat dirasakan secara lebih luas, mulai dari petani dan keluarganya hingga perusahaan serta negara-negara penghasil sawit.

Terpilihnya Gulat mendapat sambutan dari perwakilan negara yang hadir dalam IOPS Forum 2026. 

Salah satunya National President of the Oil Palm Development Association of Ghana (OPDAG) Paul Kwabena Amaning. Amaning secara khusus menitipkan persoalan harga kepada Gulat. 

Ia berharap Indonesia sebagai salah satu negara produsen sawit terbesar dapat ikut memperjuangkan kesetaraan harga bagi petani sawit di berbagai negara.

“Kami sangat berharap kepada Indonesia sebagai negara sawit terbesar untuk dapat saling menolong petani sawit di seluruh dunia,” ujar Amaning.

Persoalan harga menjadi salah satu isu penting bagi petani sawit karena berkaitan langsung dengan pendapatan dan kesejahteraan pekebun.
Selain harga, pembentukan WCOPS juga diarahkan untuk memperkuat posisi petani dalam berbagai isu strategis industri sawit global.

Beberapa isu yang menjadi perhatian antara lain keberlanjutan, ketelusuran, perdagangan yang adil, harga tandan buah segar (TBS), peningkatan produktivitas, serta hubungan antara petani dan korporasi.

Dukungan terhadap terpilihnya Gulat sebagai Presiden WCOPS juga datang dari berbagai pihak yang mengikuti forum tersebut.

Di antaranya perwakilan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Solidaridad, Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), akademisi, Dewan Pembina APKASINDO, hingga peserta IOPS Forum 2026 dari 25 provinsi sentra sawit di Indonesia.

Gulat pun menyampaikan apresiasi kepada tujuh negara dan 12 asosiasi petani sawit yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada tujuh negara yang hadir dan 12 asosiasi petani sawit dunia yang telah memberikan kepercayaan kepada saya. Amanah ini akan saya emban untuk ke depan,” ujar Gulat.

Menurut Gulat, kepemimpinan di WCOPS bukan semata-mata capaian bagi Indonesia. Ia melihat mandat tersebut sebagai momentum bagi petani sawit dunia untuk memperkuat persatuan dan memperjuangkan kepentingan mereka secara bersama-sama.

“Ini merupakan monumen penting untuk semua,” kata Gulat.

Pembentukan WCOPS diharapkan menjadi langkah baru bagi petani sawit untuk memiliki suara yang lebih kuat dalam pembahasan industri di tingkat internasional. 

Dengan dukungan 12 asosiasi dari tujuh negara, koalisi ini membawa agenda untuk memperkuat posisi petani sekaligus mendorong hubungan yang lebih seimbang antara pekebun, korporasi, dan negara.***