https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

BRIN Didorong Menyusun Grand Desain Riset Sawit Jangka Panjang

BRIN Didorong Menyusun Grand Desain Riset Sawit Jangka Panjang

Riset sawit. Foto: bpdp.or.id

Jakarta, kabarsawit.com - Indonesia dikenal sebagai raja sawit dunia karena menjadi salah satu produsen kelapa sawit terbesar. Namun, di balik besarnya produksi, Indonesia ternyata masih tertinggal jauh dari China dalam mengembangkan produk turunan sawit.

Ketua GAPKI Sumatera Utara, Timbas Prasad Ginting, mengungkapkan Indonesia saat ini baru mengembangkan sekitar 200 produk turunan sawit. Sementara itu, China disebut telah mampu mengembangkan hingga 1.000 jenis produk turunan sawit.

“Kalau Indonesia baru kembangkan 200 produk turunan sawit. Tetapi China mampu mengembangkan 1.000 jenis produk. Walaupun produsen sawit terbesar, tetapi kita sangat tertinggal,” ujar Timbas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Pemetaan Rantai Nilai, Hilirisasi, dan Arah Investasi Strategis Industri Kelapa Sawit Indonesia di BRIN Serpong.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan di tengah upaya Indonesia memperkuat hilirisasi sawit. Pasalnya, besarnya produksi sawit nasional seharusnya bisa menjadi modal untuk menghasilkan lebih banyak produk bernilai tambah.

Meski begitu, Timbas menilai hilirisasi sawit Indonesia sebenarnya sudah berkembang cukup pesat. Industri sawit tidak lagi hanya mengandalkan ekspor minyak mentah atau Crude Palm Oil (CPO), tetapi mulai bergerak ke berbagai produk olahan.

Menurutnya, setidaknya ada tiga bidang utama hilirisasi sawit yang sudah berjalan.

Pertama, sektor pangan yang mencakup minyak goreng, margarin, dan shortening. Kedua, sektor nonpangan atau oleokimia yang menghasilkan produk seperti sabun, kosmetik, bahan farmasi, hingga pelumas.

Ketiga, sektor energi terbarukan. Sawit kini juga dikembangkan menjadi biodiesel, biogas, hingga bioavtur.

“Di bidang energi, sudah pernah dilakukan uji bensin sawit dari Bandung ke Sabang. ITB sudah mampu menghasilkan bensin sawit,” kata Timbas.

Tak hanya produk utama, Timbas juga menyoroti potensi pemanfaatan limbah sawit. Menurut dia, industri kelapa sawit memiliki peluang besar menerapkan konsep zero waste karena hampir seluruh bagian hasil pengolahan dapat dimanfaatkan kembali.

Cangkang atau shell, serat atau fiber, tandan kosong kelapa sawit (empty fruit bunch/EFB), hingga limbah cair (Palm Oil Mill Effluent/POME) dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.

Mulai dari pembangkit listrik, pupuk, pelet biomassa, hingga bio-CNG.

Potensi tersebut dinilai bisa membuka sumber nilai tambah baru bagi industri sawit. Artinya, sawit tak melulu soal CPO dan minyak goreng, tetapi bisa dikembangkan menjadi beragam produk industri.

Karena itu, GAPKI mendukung langkah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam memperkuat riset dan inovasi hilirisasi sawit.

Timbas mendorong BRIN menyusun grand desain riset sawit jangka panjang yang tidak berhenti pada penelitian, tetapi bisa menghasilkan teknologi dan produk yang benar-benar diterapkan industri.

“Walaupun sudah ada program riset BPDP tetapi sifatnya text book dan belum menyentuh hilirisasi. Itu sebabnya, BRIN dapat bekerja sama dengan dunia industri agar hasil risetnya lebih aplikatif,” ujarnya.

Menurut Timbas, pengembangan riset hilirisasi sawit tidak bisa dilakukan sendirian. BRIN perlu melibatkan berbagai asosiasi yang memahami industri produk turunan sawit.

Dia menyebut sejumlah asosiasi seperti APROBI, GIMNI, dan APOLIN perlu diajak berdiskusi dalam penyusunan arah riset tersebut.

Sementara itu, GAPKI sendiri lebih banyak mewakili pelaku usaha di sektor hulu perkebunan sawit.

“Karena GAPKI sebagai asosiasi sawit yang bergerak di sektor hulu perkebunan,” jelasnya.

Dorongan memperkuat hilirisasi tersebut datang ketika kinerja industri sawit Indonesia menunjukkan pertumbuhan.

Berdasarkan data hingga Juni 2026, produksi CPO dan Palm Kernel Oil (PKO) Indonesia mencapai 30,28 juta ton, naik 8,59% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka 27,89 juta ton.

Di dalam negeri, konsumsi sawit juga meningkat 5,48% secara tahunan menjadi 12,94 juta ton.
Kenaikan tersebut salah satunya ditopang program mandatori biodiesel yang menyerap 6,57 juta ton CPO. Sementara kebutuhan sektor pangan mencapai 5,29 juta ton dan industri oleokimia sebesar 1,07 juta ton.

Di pasar global, ekspor produk olahan sawit juga jauh lebih besar dibandingkan ekspor CPO mentah.

Hingga Juni 2026, ekspor Processed Palm Oil mencapai 11,76 juta ton, sedangkan ekspor CPO mentah berada di angka 1,34 juta ton.

Nilai ekspor produk sawit Indonesia pada periode tersebut mencapai USD19,44 miliar atau sekitar Rp334,6 triliun.

Data itu menunjukkan hilirisasi sawit Indonesia memang sudah berjalan. Namun, pernyataan GAPKI memperlihatkan masih ada pekerjaan rumah besar: memperbanyak jenis produk turunan dan meningkatkan nilai tambah sawit di dalam negeri.

Bagi petani sawit, penguatan hilirisasi juga menjadi isu penting. Makin banyak produk turunan yang bisa dikembangkan, makin besar pula peluang terciptanya pasar baru untuk komoditas sawit nasional.

Kini tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan lebih banyak sawit, tetapi bagaimana mengubah hasil sawit menjadi sebanyak mungkin produk bernilai tinggi.***