Ditjenbun Lakukan Hal Ini untuk Antisipasi Ancaman Perubahan Iklim
Gagal panen karena kekeringan ekstrem menjadi salah satu dampak perubahan iklim. Dok.Shutterstock
Jakarta, kabarsawit.com - Direktur Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan), Andi Nur Alam Syah mengatakan pihaknya akan selalu berupaya mengantisipasi perubahan iklim.
Salah satu cara yang dibikin dalam bentuk paket teknologi berupa kegiatan mitigasi maupun adaptasi untuk menekan efek negatif dari perubahan iklim terhadap komoditas perkebunan
Ini disampaikan Andi Nur saat pembukaan Pekan Nasional (Penas) XVI Petani dan Nelayan yang dipusatkan di kawasan Lanud Sutan Sjahrir, Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Sabtu (10/6). Kegiatan ini berlangsung sampai 15 Juni mendatang.
Menurutnya, Ditjenbun juga terus mensosialisasikan dan menghimbau para petani agar segera melakukan pengendalian OPT secara terpadu, pembangunan embung, demplot pembukaan lahan tanpa bakar, serta memberikan bantuan sarpras untuk kekeringan dan kebakaran lahan seperti pompa air, pompa jinjing, dan selang.
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo juga mengapresiasi para petani karena sektor pertanian berhasil memperkuat ekonomi dan bisa bertahan menghadapi berbagai tantangan seperti, pandemi COVID-19 dan tantangan selanjutnya.
"Dunia akan dihadapkan pada perubahan iklim ekstrim dan ancaman krisis pangan global, dimana dapat mempengaruhi produksi maupun produktivitas pertanian," kata Mentan, dilansir kabarsawit.com dari keterangan resminya.
Kementerian Pertanian juga mengajak Kontak Tani Andalan Indonesia (KTNA) untuk bersinergi dan berkolaborasi, demi mengantisipasi perubahan iklim dan krisis pangan global.
“Kita harus buat gagasan-gagasan baru, terobosan-terobosan tepat guna. Gelaran Penas 2023 ini diharapkan bisa menjadi jawaban berbagai tantangan yang tengah dihadapi oleh sektor pangan Indonesia,” ujarnya.








