https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Harga Sawit Murah, Petani Khawatir Anak Tak Bisa Sekolah

Harga Sawit Murah, Petani Khawatir Anak Tak Bisa Sekolah

Ilustrasi - petani sawit di Bengkulu.

Bengkulu, kabarsawit.com - Para petani sawit di Provinsi Bengkulu diliputi kekhawatiran yang mendalam menjelang tahun ajaran 2023/2024. Mereka menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka akibat menurunnya pendapatan sejalan dengan penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ditingkat petani hingga Rp 1.250 per kilogram. 

Dalam situasi ini, petani merasa tertekan karena tidak memiliki jaminan seperti pegawai negeri sipil yang menerima gaji ke-13 dari pemerintah.

Petani Sawit di Bengkulu, Sri Rahayu mengaku, penurunan harga TBS kelapa sawit menjadi faktor utama di balik kesulitan finansial yang dihadapi petani sawit di Bengkulu. Harga komoditas ini mengalami penurunan drastis dalam beberapa minggu terakhir, yang menyebabkan pendapatan petani merosot tajam. Sebagai hasilnya, banyak petani yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya pendidikan anak-anak mereka.

"Saya sangat khawatir tidak mampu membiayai pendidikan anak saya pada tahun ajaran mendatang. Pendapatan saya sebagai petani sawit terus menurun, sementara biaya hidup semakin tinggi. Saya berharap pemerintah dapat memberikan dukungan kepada petani seperti saya," ujar Sri dengan nada keprihatinan, Selasa (13/6).

Ketidakpastian ekonomi dan perbedaan perlakuan antara petani sawit dan pegawai negeri sipil semakin memperumit situasi para petani. Pegawai negeri sipil menerima gaji ke-13 dari pemerintah, yang memberikan bantuan tambahan di akhir tahun untuk memenuhi kebutuhan ekstra mereka. Sementara itu, petani sawit tidak memiliki jaminan serupa dan harus mengandalkan pendapatan dari hasil panen kelapa sawit.

"Kami ini beda dengan PNS, kalau PNS kan ada gaji ke-13, nah kami ini cuma mengandalkan pendapatan dari hasil panen sawit, kalau harganya menurun ya pendapatan kami ikut menurun," ujar Sri.

Menanggapi kekhawatiran petani sawit, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Bickman Panggarbesy mengakui, tantangan yang dihadapi oleh para petani sawit di Bengkulu. Pihaknya mengaku, sudah melaporkan hal ini kepada Pemerintah Pusat untuk mencari solusi.

"Kami memahami kesulitan yang dihadapi petani sawit di Bengkulu. Kami sedang bekerja sama dengan pemerintah pusat untuk mencari solusi yang tepat guna membantu petani menghadapi penurunan harga TBS kelapa sawit," ungkap Bickman.

 

Sementara pemerintah berupaya mencari solusi jangka pendek, beberapa petani sawit juga mulai mencari alternatif untuk meningkatkan pendapatan mereka.

Beberapa di antaranya mencoba diversifikasi pertanian dengan menanam tanaman lain selain kelapa sawit, sementara yang lain mencari peluang bisnis di sektor non-pertanian. Namun, transisi ini tidaklah mudah dan membutuhkan waktu serta sumber daya yang memadai.