Petani Sawit Kaltim Dilatih Perbanyak Agens Hayati, Apa Itu?
Petani sawit di Kaltim dilatih perbanyak Agens Hayati. Dok.DisbunKaltim
Kaltim, kabarsawit.com - Penggunaan pestisida sintetis yang kurang bijaksana dalam pengendalian hama atau Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), masih banyak dilakukan oleh para petani di sektor perkebunan sawit.
Hal ini mengakibatkan timbulnya beberapa masalah yang kurang menguntungkan. Di antaranya timbul resistensi OPT terhadap pestisida sintetis. Residu pestisida juga mengakibatkan pencemaran lingkungan dan lain-lain.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur (Disbun Kaltim) memberikan Pelatihan Perbanyakan dan Penyebaran Agens Pengendali Hayati bagi petani sawit di Desa Karang Jenawi, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.
Pelatihan Perbanyakan Agens Pengendali Hayati juga digelar di Kampung Sekolaq, Kecamatan Sekolaq Darat, Kabupaten Kutai Barat. Peserta berasal dari Petugas Bregade Protensi Tanaman (BPT) dan Regu Pengendali OPT (RPO) setempat.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pengembangan dan Perlindungan Tanaman Perkebunan (UPTD P2TP) Disbun Kaltim, Sopian mengatakan, agens hayati adalah setiap organisme atau mahluk hidup, terutama serangga, cendawan, cacing, bakteri, virus dan binatang lainnya, yang dapat dipergunakan untuk membasmi atau mengendalikan OPT dalam proses produksi, pengolahan hasil pertanian, dan berbagai keperluannya.
"Sangatlah bijaksana apabila dalam pengendalian OPT dilakukan dengan menggunakan musuh alami atau agens hayati. Kegiatan pelatihan perbanyakan agens pengendali hayati bertujuan meningkatkan efektifitas agens hayati di tingkat lapangan dan sosialisasi kepada petani," jelasnya melalui keterangan resminya dikutip kabarsawit.com, Sabtu (17/6).
"Agens Pengendali Hayati merupakan organisme yang dapat dipergunakan untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman. Itu artinya pengendalian OPT dilakukan dengan menggunakan bahan pengendali yang ramah lingkungan," tambahnya.
Dia memaparkan, Trichoderma spp merupakan salah satu agens hayati yang rutin digunakan di kelompok petani sawit. "Baik digunakan sebagai Trichokompos, maupun aplikasi starter dengan cara disemprot atau dikocorkan ke pertanaman," bebernya.
Dia berharap setelah mengikuti pelatihan, para petani mampu memperbanyak dan mengaplikasikan agens pengendali hayati secara mandiri. "Dengan begitu petani dapat menyediakan bahan pengendali yang ramah lingkungan untuk pencegahan secara dini serangan OPT pada tanaman perkebunan," tukasnya.
Menurutnya, semakin meningkatnya minat petani sawit dalam menggunakan Agens Pengendali Hayati, maka akan menekan dampak negatif dari penggunaan bahan kimia sintetik.
"Sehingga dapat tercipta sistim budidaya pertanian yang sehat dan lebih ramah lingkungan serta terjaganya ekosistem pertanian yang berkelanjutan," sebutnya.
"Perkebunan yang berkelanjutan tanpa ada daya dukung tindakan nyata dari petani, maka akan mustahil bisa mendapatkan hasil yang maksimal," sambungnya.








