https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Perlunya Hilirisasi Sawit di Bengkulu Agar Tak Bergantung pada Ekspor CPO ke Eropa

Perlunya Hilirisasi Sawit di Bengkulu Agar Tak Bergantung pada Ekspor CPO ke Eropa

Ilustrasi - truk pengangkut TBS sawit melintas di jalanan Kabupaten Siak. Dok.kabarsawit

Bengkulu, kabarsawit.com - Pengamat Ekonomi Bengkulu, Ahmad Badawi Saluy mengatakan perlunya hilirisasi sektor kelapa sawit di Bengkulu guna meningkatkan harga komoditas tersebut.

Menurut Ahmad langkah itu sangat penting mengingat terjadi kendala ekspor CPO ke Eropa akibat peraturan deforestasi Uni Eropa.

Belum lagi, proses ekspor CPO juga membutuhkan waktu lama hingga berdampak pada perkembangan harga TBS petani.

"Oleh karena itu, hilirisasi menjadi alternatif yang perlu dijajaki untuk menghadapi situasi saat ini. Sebab, dengan melakukan hilirisasi, kita dapat menciptakan produk bernilai tambah yang lebih diversifikasi dan siap untuk diekspor juga," ujar Ahmad, kemarin.

Menurutnya, Undang-Undang Uni Eropa tentang Deforestasi (EUDR) telah menghambat ekspor CPO ke negara-negara di Eropa. Dampaknya, sektor kelapa sawit di Bengkulu mengalami penurunan daya saing karena tidak dapat melakukan ekspor ke pasar utama. Padahal, negara-negara di Eropa merupakan tujuan utama ekspor CPO dari Indonesia.

"Harga TBS kelapa sawit rendah itu karena ekspor CPO sedang terkendala akibat EUDR," ujar Ahmad.

Untuk mengatasi kendala itu, Ahmad meminta agar Pemerintah Provinsi Bengkulu memprioritaskan pengembangan industri hilir kelapa sawit. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk kelapa sawit, sehingga dapat menjaga daya saing dan mendiversifikasi ekspor.

"Dengan hilirisasi, diharapkan sektor kelapa sawit dapat menghasilkan produk turunan seperti biodiesel, sabun, dan bahan baku untuk industri makanan dan minuman," tutur Ahmad.

Sebagai bentuk dukungan terhadap hilirisasi kelapa sawit di Bengkulu, Ahmad berharap Pemerintah Provinsi juga bisa meluncurkan berbagai program dan insentif bagi pelaku industri.

Salah satunya penyediaan infrastruktur yang memadai, pelatihan keterampilan, dan bantuan modal untuk pengembangan usaha hilir kelapa sawit. Langkah ini dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru di Bengkulu.

"Hilirisasi kelapa sawit akan membuka peluang baru bagi sektor ekonomi di Bengkulu. Dengan meningkatnya nilai tambah produk turunan, harga komoditas kelapa sawit juga akan meningkat secara signifikan, sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat dan petani," tutupnya.