https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Harga TBS Anjlok Terus, Anak Petani Sawit di Bengkulu Terancam Putus Sekolah

Harga TBS Anjlok Terus, Anak Petani Sawit di Bengkulu Terancam Putus Sekolah

Ilustrasi - TBS sawit. Dok.kabarsawit

Bengkulu, kabarsawit.com - Petani sawit di Bengkulu sangat kecewa karena harga TBS stagnan beberapa minggu terakhir. Jika dihitung-hitung, sekali panen rata-rata petani sawit di sana saat ini hanya mengantongi Rp1.200 per kilogram.

Harga itu tentu memberikan dampak negatif bagi kehidupan para petani, terutama dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya pendidikan anak.

"Kami sangat kecewa dengan situasi ini. Harga sawit yang tidak naik sama sekali membuat kami semakin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terutama dalam membayar biaya pendidikan anak-anak yang semakin tinggi," kata Bambang, seorang petani sawit di Kabupaten Bengkulu Tengah kepada kabarsawit.com, kemarin.

Sejak harga sawit anjlok, Bambang mengaku kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Boro-boro menambung, kata Bambang, untuk mebayar duit SPP anak saja sesak nafas.

"Sekarang kami hanya mendapatkan Rp 1.200 per kilogram sawit, sementara biaya hidup semakin meningkat. Kami sulit menabung atau bahkan memenuhi kebutuhan mendesak. Kami juga sulit membayar SPP sekolah anak karena kenaikan biaya SPP sekolah yang cukup signifikan," ungkap Bambang.

Bambang mengatakan, biaya SPP anaknya saat ini naik hingga 10 persen. "Memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah sesak ni. Ditambah lagi duit SPP anak pun naik. Sebetulnya kita ingin memberikan pendidikan terbaik ke anak-anak. Tapi, kalau kondisi kayak sekarang ini, kan sulit," jelasnya.

Sementara, Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengaku, kondisi yang dialami petani sawit menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah, dan akan mencari solusi yang bisa membantu para petani sawit.

"Kami sedang melakukan diskusi intensif dengan para petani sawit dan melihat berbagai opsi untuk membantu mereka menghadapi tantangan ini. Kami juga sedang mencari cara untuk meningkatkan akses pasar dan mengurangi dampak kenaikan biaya pendidikan bagi petani sawit," kata dia.

Diharapkan dengan adanya perhatian dan tindakan dari pemerintah daerah dan otoritas terkait, para petani sawit di Bengkulu dapat mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan untuk mengatasi kesulitan finansial dan memenuhi biaya pendidikan anak-anak mereka.

Hal ini juga akan membantu para petani dalam meningkatkan taraf hidup dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi keluarga petani sawit di Bengkulu.