https://www.kabarsawit.com


Copyright © kabarsawit.com
All Right Reserved.

Petani Sawit Harus Mulai Budayakan 'Kenyang Tidak Harus Nasi'

Petani Sawit Harus Mulai Budayakan

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu, Sisardi.

Bengkulu, kabarsawit.com - Pemerintah Provinsi Bengkulu memastikan memiliki cadangan pangan yang mencukupi untuk memenuhi konsumsi masyarakat di tengah gejolak geopolitik Rusia dan Ukraina dan perubahan iklim. Namun upaya menjaga stok pangan daerah jangka panjang perlu pembenahan salah satunya perubahan budaya konsumsi petani sawit ke pangan lokal.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu, Sisardi mengatakan, petani sawit harus mulai membudayakan 'kenyang tidak harus nasi'. Sebab banyak ragam pangan lokal yang dapat menjadi sumber karbohidrat.

"Selama ini banyak petani sawit yang menyebutkan kalau belum konsumsi nasi, rasanya belum makan. Namun sebenarnya, dengan keanekaragaman sumber pangan yang kita miliki ada banyak pilihan sumber karbohidrat selain beras seperti ubi jalar, ubi kayu atau singkong, talas atau keladi, jagung, sagu, sorgum, porang, dan masih banyak lagi," kata Sisardi, kemarin.

Ia mengatakan, untuk mendorong semangat penganekaragaman konsumsi pangan lokal, pihaknya telah mengajak petani sawit  untuk mengenal ragam jenis pangan lokal, mencoba, hingga memanfaatkannya sebagai pangan alternatif, serta semakin mengetahui seperti apa pola konsumsi yang seimbang serta aman.

"Kami telah menggerakkan program pangan lokal ke pemerintah kabupaten/kota di Bengkulu untuk semakin intensif mengkampanyekan gerakan ini kepada petani sawit di daerahnya. Salah satunya melalui pemanfaatan pekarangan rumah sebagai ladang untuk bercocok tanam komoditas pangan lokal," ujar Sisardi.

Ia berharap, melalui pembudidayaan, pemanfaatan, dan peningkatan konsumsi pangan lokal yang beragam, maka ketahanan pangan masyarakat akan semakin terjaga karena tidak harus bergantung pada satu komoditas tertentu.

"Memfokuskan kebutuhan pangan nasional hanya pada komoditas tertentu, seperti beras misalnya, jelas memiliki risiko. Selain tidak semua lahan cocok ditanami padi, perubahan iklim merupakan ancaman produktivitas sawah," ujarnya.

Dari sisi kesehatan, penganekaragaman konsumsi pangan bermanfaat untuk pemenuhan gizi yang variatif dan seimbang. Contohnya umbi maupun sagu yang terkenal rendah gluten yang baik untuk tubuh.

 

Selain itu, pangan lokal juga bisa menjadi bahan substitusi komoditas impor. Bahkan campuran tepung pangan lokal bisa jadi bahan pengganti untuk pembuatan kue, mie, maupun pangan lainnya.

"Jika kita bisa melakukan substitusi pangan yang berbahan baku gandum seperti terigu menjadi tepung beras dan singkong sebanyak 10% saja, itu sama dengan menjaga pengeluaran pemerintah dan masyarakat per tahun," tutupnya.