Ekspor CPO Melemah, Harga TBS Sawit Ikut Merosot
Kapal pengangkut CPO di pelabuhan PT Pelindo I Dumai, foto : ekonomi.bisnis.com
Bengkulu, kabarsawit.com – Harga tandan buah segar (TBS) sawit pada tingkat petani terus mengalami penurunan. Hal ini diakibatkan ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang stuck tidak mengalami peningkatan.
Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Bengkulu, A Jakfar mengungkapkan, belum maksimalnya kegiatan ekspor CPO membuat harga TBS rendah dan cenderung terus menurun.
“Belakangan ini harga TBS petani sawit terus menurun. Yang paling tinggi hanya Rp 1.760 per kilogram, harga ini tidak sebanding dengan harga TBS sawit petani Malaysia yang semuanya di atas Rp 2 ribu” ungkap Jakfar, Selasa (11/7).
Adanya kebijakan dalam pemenuhan kebutuhan pasar domestik atau Domestic Market Obligation (DMO) dan juga Domestic Price Obligation (DPO) merupakan salah satu penghambat ekspor CPO, kebijakan-kebijakan ini selayaknya dihapuskan, karena akan terus berimbas pada harga TBS sawit di tingkat petani.
Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Rosmala Dewi SP mengungkapkan, langkah pemerintah pusat untuk memaksimalkan ekspor CPO sangat dibutuhkan agar harga TBS petani bisa naik.
Karena sejauh ini pemerintah provinsi sudah berusaha meningkatkan kenaikan harga TBS dengan berbagai cara, mulai dari menjaga kualitas dan produktivitas kelapa sawit, hingga membantu petani meningkatkan jumlah produksi.
Namun semua itu tidak berarti banyak jika bukan dari pemerintah pusat yang membantu meningkatkan ekspor CPO.
“Harapannya pemerintah pusat dapat bertindak tegas, sehingga masalah harga TBS sawit di Bengkulu bisa sama dengan harga di daerah lain,” tutup Rosmala.








