Ini Penyebab Perbedaan Harga Sawit Berdasarkan Usia Tanaman Versi APKS Bengkulu
Ilustrasi-petani kelapa sawit.
Bengkulu, kabarsawit.com - Asosiasi Petani Kelapa Sawit (APKS) Bengkulu baru-baru ini mengungkapkan bahwa harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit usia tanam di atas 10 tahun di daerah itu dibandrol Rp 2 ribu per kilogram, atau lebih tinggi dibanding usia tanam di bawah 5 tahun yang hanya Rp 1.700 hingga Rp1.800 per kilogram.
Perbedaan harga ini disebabkan oleh faktor biaya produksi yang semakin tinggi seiring dengan pertambahan usia tanaman kelapa sawit.
Ketua APKS Bengkulu, Edy Mashuri mengatakan, selama ini banyak petani yang mengeluhkan kenapa harga TBS kelapa sawit berbeda antara usia tanaman dibawah 5 tahun dengan diatas 10 tahun.
Perbedaan harga tersebut disebabkan oleh meningkatnya biaya produksi mulai dari pemupukan hingga proses pemetikan buah. Semakin tinggi batang sawit, semakin sulit dan memakan waktu untuk melakukan proses pemetikan buah sawit. Petani harus menggunakan peralatan dan tenaga kerja tambahan untuk mencapai hasil yang optimal.
"Tanaman kelapa sawit yang berusia di atas 10 tahun memiliki tinggi dan diameter batang yang lebih besar, yang berarti memerlukan peralatan khusus dan tenaga kerja tambahan dalam proses pemetikan buah sawit. Ini tentu berdampak pada biaya produksi yang harus ditanggung oleh petani," kata Edy kepada kabarsawit.com, kemarin.
Tidak hanya itu, tanaman kelapa sawit yang lebih tua juga cenderung memiliki produksi buah yang lebih rendah dibandingkan dengan tanaman yang lebih muda. Ini juga menjadi faktor penentu dalam menetapkan harga TBS. Produksi yang rendah dapat mempengaruhi pasokan dan permintaan di pasar kelapa sawit.
"Selain biaya produksi yang lebih tinggi, tanaman kelapa sawit yang lebih tua umumnya memiliki produksi buah yang lebih rendah. Hal ini berarti pasokan TBS kelapa sawit yang berasal dari tanaman di atas 10 tahun dapat lebih terbatas, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi permintaan dan harga di pasar," kata dia.
APKS Bengkulu juga mengaku pentingnya dukungan dan inovasi dalam menghadapi permasalahan ini. Petani perlu diberikan akses terhadap teknologi yang dapat membantu meningkatkan efisiensi dalam proses pemetikan buah sawit, terutama pada tanaman yang lebih tua.
Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari solusi yang dapat mengurangi biaya produksi dan meningkatkan produktivitas pada tanaman kelapa sawit yang lebih tua.
"Kami berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan dukungan dan inovasi yang diperlukan untuk membantu petani menghadapi tantangan ini. Teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi dalam pemetikan buah sawit dan solusi yang dapat mengurangi biaya produksi sangat dibutuhkan," saran Edy.
Untuk itu APKS Bengkulu mengajak para petani untuk terus berinovasi dan mencari peluang diversifikasi usaha. Diversifikasi usaha dapat membantu petani mengurangi ketergantungan pada harga TBS kelapa sawit dan meningkatkan pendapatan melalui produk-produk turunan kelapa sawit, seperti minyak kelapa sawit dan produk olahan lainnya.
"Selain mencari cara untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan produktivitas, kami juga mendorong petani untuk melakukan diversifikasi usaha. Diversifikasi usaha dapat membantu mengurangi ketergantungan pada harga TBS dan meningkatkan pendapatan melalui produk turunan kelapa sawit," tutupnya.








